
Pasar modal Indonesia kini tengah menanti babak baru dalam dinamika aliran dana global.
Di tengah upaya pasar modal Indonesia memperkuat fondasi fundamentalnya, perubahan peta klasifikasi dalam indeks MSCI muncul sebagai katalisator utama yang diprediksi akan mengubah arah arus modal di tahun 2026.
Fenomena ini bukan sekadar rotasi sektor biasa, melainkan momentum strategis bagi Indonesia untuk menyerap limpahan kapital dari pasar negara berkembang lainnya.
Topik paling hangat yang diperbincangkan adalah potensi kenaikan kelas (upgrade) Korea Selatan dari status Emerging Market (EM) menjadi Developed Market (DM) dalam klasifikasi MSCI.
Fath Aliansyah Budiman, Head of Investment Specialist, Maybank Sekuritas, dalam siaran Youtube hari ini mengatakan, jika transisi ini terjadi, skema MSCI akan memaksa pengelola dana global yang memiliki mandat investasi di pasar negara berkembang untuk merelokasi aset mereka keluar dari Korea Selatan secara masif.
Mengingat Korea Selatan memegang porsi sekitar 15% dalam bobot negara berkembang, keluarnya dana tersebut akan menciptakan kekosongan yang harus diisi oleh negara lain, termasuk Indonesia.
Diperkirakan ada potensi aliran dana masuk (inflow) sebesar USD 4 miliar hingga USD 6 miliar ke bursa Indonesia. Hal ini menjadi katalis positif bagi saham-saham yang sering menjadi target "MSCI Play" seperti BUMI, karena mereka berpotensi mendapatkan perhatian lebih dari investor institusi mancanegara seiring dengan peningkatan bobot Indonesia di Emerging Market.
Selain isu indeks MSCI, Fath juga menyebutkan bahwa pasar juga sedang mencermati aksi korporasi besar di sektor pelayaran global. Adanya akuisisi perusahaan logistik Jerman terhadap entitas pelayaran Israel, ZIM, menandakan dimulainya fase konsolidasi yang akan memengaruhi fundamental sektor pelayaran di Indonesia, khususnya emiten seperti SMDR dan TMAS.
Aksi akuisisi ini dipandang sebagai upaya industri untuk mengurangi over supply kapal yang selama ini menekan margin keuntungan. Dengan berkurangnya jumlah pemain di tingkat global, tarif pengiriman (freight rates) diharapkan menjadi lebih stabil. Bagi investor, hal ini membuka peluang terjadinya re-rating valuasi karena prospek pendapatan emiten pelayaran domestik menjadi lebih terukur di masa depan.
Satriawan, Chartist Maybank Sekuritas, menjelaskan bahwa IHSG saat ini sedang berada dalam fase koreksi sehat setelah menyentuh level 8.200. Untuk menjaga tren kenaikan, indeks diharapkan tetap bertahan di atas level dukungan psikologis 8.214.
Beberapa saham menunjukkan formasi teknikal yang menarik untuk diperhatikan:
Dalam sesi tanya jawab, Fath juga memberikan catatan khusus pada saham logam. TINS (Timah) diprediksi akan mencatatkan kinerja keuangan yang lebih baik di tahun 2026 didukung oleh integrasi smelter baru.
Sementara itu, nikel tetap menjadi komoditas pilihan karena kebijakan pemerintah Indonesia yang lebih terukur dalam menjaga output produksi dunia, sehingga harga nikel tetap stabil dan menguntungkan emiten seperti MBMA.
Rebalancing dalam indeks MSCI merupakan peristiwa fundamental yang mampu mengubah peta likuiditas pasar modal Indonesia secara drastis.
Penerapan skema MSCI terhadap status Korea Selatan membuka gerbang bagi masuknya kapital asing dalam skala masif ke lantai bursa domestik. Dengan fondasi sektor pelayaran yang mulai terkonsolidasi, prospek komoditas yang sehat, serta pemulihan sektor konsumsi yang stabil, investor memiliki momentum tepat untuk menyusun ulang strategi pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Fokus pada emiten yang memiliki korelasi kuat terhadap indeks global akan menjadi kunci dalam menangkap potensi keuntungan maksimal dari pergeseran dana internasional ini.
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan merupakan rekomendasi beli atau jual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor. Selalu lakukan riset mandiri dan sesuaikan dengan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Tonton selengkapnya di: Maybank Sekuritas Indonesia - Tiger Insights

Pasar modal Indonesia kini tengah menanti babak baru dalam dinamika aliran dana global.
Di tengah upaya pasar modal Indonesia memperkuat fondasi fundamentalnya, perubahan peta klasifikasi dalam indeks MSCI muncul sebagai katalisator utama yang diprediksi akan mengubah arah arus modal di tahun 2026.
Fenomena ini bukan sekadar rotasi sektor biasa, melainkan momentum strategis bagi Indonesia untuk menyerap limpahan kapital dari pasar negara berkembang lainnya.
Topik paling hangat yang diperbincangkan adalah potensi kenaikan kelas (upgrade) Korea Selatan dari status Emerging Market (EM) menjadi Developed Market (DM) dalam klasifikasi MSCI.
Fath Aliansyah Budiman, Head of Investment Specialist, Maybank Sekuritas, dalam siaran Youtube hari ini mengatakan, jika transisi ini terjadi, skema MSCI akan memaksa pengelola dana global yang memiliki mandat investasi di pasar negara berkembang untuk merelokasi aset mereka keluar dari Korea Selatan secara masif.
Mengingat Korea Selatan memegang porsi sekitar 15% dalam bobot negara berkembang, keluarnya dana tersebut akan menciptakan kekosongan yang harus diisi oleh negara lain, termasuk Indonesia.
Diperkirakan ada potensi aliran dana masuk (inflow) sebesar USD 4 miliar hingga USD 6 miliar ke bursa Indonesia. Hal ini menjadi katalis positif bagi saham-saham yang sering menjadi target "MSCI Play" seperti BUMI, karena mereka berpotensi mendapatkan perhatian lebih dari investor institusi mancanegara seiring dengan peningkatan bobot Indonesia di Emerging Market.
Selain isu indeks MSCI, Fath juga menyebutkan bahwa pasar juga sedang mencermati aksi korporasi besar di sektor pelayaran global. Adanya akuisisi perusahaan logistik Jerman terhadap entitas pelayaran Israel, ZIM, menandakan dimulainya fase konsolidasi yang akan memengaruhi fundamental sektor pelayaran di Indonesia, khususnya emiten seperti SMDR dan TMAS.
Aksi akuisisi ini dipandang sebagai upaya industri untuk mengurangi over supply kapal yang selama ini menekan margin keuntungan. Dengan berkurangnya jumlah pemain di tingkat global, tarif pengiriman (freight rates) diharapkan menjadi lebih stabil. Bagi investor, hal ini membuka peluang terjadinya re-rating valuasi karena prospek pendapatan emiten pelayaran domestik menjadi lebih terukur di masa depan.
Satriawan, Chartist Maybank Sekuritas, menjelaskan bahwa IHSG saat ini sedang berada dalam fase koreksi sehat setelah menyentuh level 8.200. Untuk menjaga tren kenaikan, indeks diharapkan tetap bertahan di atas level dukungan psikologis 8.214.
Beberapa saham menunjukkan formasi teknikal yang menarik untuk diperhatikan:
Dalam sesi tanya jawab, Fath juga memberikan catatan khusus pada saham logam. TINS (Timah) diprediksi akan mencatatkan kinerja keuangan yang lebih baik di tahun 2026 didukung oleh integrasi smelter baru.
Sementara itu, nikel tetap menjadi komoditas pilihan karena kebijakan pemerintah Indonesia yang lebih terukur dalam menjaga output produksi dunia, sehingga harga nikel tetap stabil dan menguntungkan emiten seperti MBMA.
Rebalancing dalam indeks MSCI merupakan peristiwa fundamental yang mampu mengubah peta likuiditas pasar modal Indonesia secara drastis.
Penerapan skema MSCI terhadap status Korea Selatan membuka gerbang bagi masuknya kapital asing dalam skala masif ke lantai bursa domestik. Dengan fondasi sektor pelayaran yang mulai terkonsolidasi, prospek komoditas yang sehat, serta pemulihan sektor konsumsi yang stabil, investor memiliki momentum tepat untuk menyusun ulang strategi pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Fokus pada emiten yang memiliki korelasi kuat terhadap indeks global akan menjadi kunci dalam menangkap potensi keuntungan maksimal dari pergeseran dana internasional ini.
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan merupakan rekomendasi beli atau jual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor. Selalu lakukan riset mandiri dan sesuaikan dengan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Tonton selengkapnya di: Maybank Sekuritas Indonesia - Tiger Insights


Trading yang Mulus dan Efisien
Buka potensi trading saham dengan Maybank Trade ID, aplikasi andalan Anda untuk trading yang mulus dan efisien. Baik Anda seorang investor berpengalaman atau baru memulai, platform kami menjamin pengalaman perdagangan yang lancar.

Advanced Analytics dan Real-Time Data
Maybank Trade ID menyediakan data pasar real-time dan analisis lanjutan, memberi Anda kekuatan untuk membuat keputusan investasi yang terinformasi. Tetap selangkah lebih maju dari pasar dengan platform canggih kami.

Dipercaya oleh Ribuan Orang
Bergabunglah dengan ribuan trader yang mempercayai Maybank Trade ID untuk kebutuhan investasi mereka. Unduh sekarang dan mulailah perjalanan Anda menuju trading yang lebih cerdas dengan alat intuitif dan dukungan yang dapat diandalkan.
Alamat Kantor Pusat Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)





Alamat Kantor Pusat
Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)




