.png)
Belakangan ini, jagat media sosial diguncang oleh perseteruan digital yang melibatkan dua kubu besar, yaitu: Knetz (Korean Netizens) dan SEAblings (South East Asia Siblings). Fenomena ini awalnya bermula dari etika di konser K-Pop ini dengan cepat berkembang menjadi isu rasisme dan stereotip ekonomi yang memicu kemarahan kolektif di Asia Tenggara.
Namun, di balik riuhnya adu argumen di timeline sosial media, Korea Selatan kini sedang berada di ambang transformasi besar. Korea Selatan berpotensi “naik kelas” MSCI dari Emerging Market menjadi Developed Market. Menariknya, pergeseran status negeri Ginseng ini justru berpeluang memberikan "durian runtuh" untuk stabilitas dan pertumbuhan IHSG.
Secara fundamental, kekuatan ekonomi Korea Selatan sebenarnya telah melampaui standar negara berkembang pada umumnya. Sebagai negara dengan basis ekonomi berteknologi tinggi, Korea menjadi markas bagi entitas global raksasa seperti Samsung, Hyundai, hingga LG.
Untuk memuluskan langkah "naik kelas" ini, pemerintah Korea telah mengimplementasikan serangkaian reformasi pasar modal:
Status pasar negara maju bukan sekadar label, melainkan kunci untuk menarik Aliran Dana Raksasa. Masuknya Korea ke kategori ini diperkirakan akan memicu aliran modal masuk (inflow) tambahan sebesar USD 15 miliar hingga USD 44 miliar dari manajer investasi global.
Langkah ini juga bertujuan menghapus "Korea Discount", sebuah fenomena di mana saham perusahaan besar seperti Samsung atau Hyundai dihargai lebih rendah dibandingkan pesaing globalnya karena hambatan akses pasar dan masalah tata kelola.
Memahami Pergerakan Dana: Active Fund vs Passive Fund
Ketika klasifikasi dalam Indeks MSCI berubah, peta aliran modal dunia akan langsung bergeser secara otomatis melalui dua kekuatan utama:
Menariknya, jika Korea Selatan resmi "naik kelas" pada tinjauan MSCI Juni 2026 mendatang, pasar modal Indonesia justru berpotensi mendapatkan keuntungan. Menurut Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas pada Tiger Insights, saat ini Korea memegang bobot signifikan (15%) di indeks MSCI Emerging Markets. Jika Korea keluar dari kategori ini, manajer investasi global akan secara otomatis meningkatkan bobot negara berkembang lain yang masih berada di Emerging Market, salah satunya Indonesia.
Jika hal ini terjadi, berarti aliran dana asing (passive inflow) bisa mengalir deras ke saham-saham likuiditas tinggi di Indonesia.
Perseteruan Knetz vs SEAblings mungkin mendominasi perbincangan sosial, namun bagi investor cerdas, transisi Korea Selatan ini adalah momentum emas yang tidak boleh terlewatkan.
Jangan hanya menjadi penonton di tengah perubahan peta ekonomi global ini. Pastikan kamu memiliki alat yang tepat untuk menangkap setiap peluang sebelum momentum Indeks MSCI ini mencapai puncaknya.
Segera siapkan alat pendukung kamu dalam melalui momentum emas ini dan dapatkan akses data real-time, analisis emiten terlengkap, dan notifikasi pergerakan pasar secara instan.
Jadilah investor yang selangkah lebih maju dengan kemudahan transaksi dalam satu genggaman. Unduh sekarang dan mulailah membangun portofolio masa depan kamu!. [RIM]
Sources:
https://keia.org/the-peninsula/koreas-drive-for-developed-market-reclassification/
https://www.youtube.com/live/hu3jVUizbAY
.png)
Belakangan ini, jagat media sosial diguncang oleh perseteruan digital yang melibatkan dua kubu besar, yaitu: Knetz (Korean Netizens) dan SEAblings (South East Asia Siblings). Fenomena ini awalnya bermula dari etika di konser K-Pop ini dengan cepat berkembang menjadi isu rasisme dan stereotip ekonomi yang memicu kemarahan kolektif di Asia Tenggara.
Namun, di balik riuhnya adu argumen di timeline sosial media, Korea Selatan kini sedang berada di ambang transformasi besar. Korea Selatan berpotensi “naik kelas” MSCI dari Emerging Market menjadi Developed Market. Menariknya, pergeseran status negeri Ginseng ini justru berpeluang memberikan "durian runtuh" untuk stabilitas dan pertumbuhan IHSG.
Secara fundamental, kekuatan ekonomi Korea Selatan sebenarnya telah melampaui standar negara berkembang pada umumnya. Sebagai negara dengan basis ekonomi berteknologi tinggi, Korea menjadi markas bagi entitas global raksasa seperti Samsung, Hyundai, hingga LG.
Untuk memuluskan langkah "naik kelas" ini, pemerintah Korea telah mengimplementasikan serangkaian reformasi pasar modal:
Status pasar negara maju bukan sekadar label, melainkan kunci untuk menarik Aliran Dana Raksasa. Masuknya Korea ke kategori ini diperkirakan akan memicu aliran modal masuk (inflow) tambahan sebesar USD 15 miliar hingga USD 44 miliar dari manajer investasi global.
Langkah ini juga bertujuan menghapus "Korea Discount", sebuah fenomena di mana saham perusahaan besar seperti Samsung atau Hyundai dihargai lebih rendah dibandingkan pesaing globalnya karena hambatan akses pasar dan masalah tata kelola.
Memahami Pergerakan Dana: Active Fund vs Passive Fund
Ketika klasifikasi dalam Indeks MSCI berubah, peta aliran modal dunia akan langsung bergeser secara otomatis melalui dua kekuatan utama:
Menariknya, jika Korea Selatan resmi "naik kelas" pada tinjauan MSCI Juni 2026 mendatang, pasar modal Indonesia justru berpotensi mendapatkan keuntungan. Menurut Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas pada Tiger Insights, saat ini Korea memegang bobot signifikan (15%) di indeks MSCI Emerging Markets. Jika Korea keluar dari kategori ini, manajer investasi global akan secara otomatis meningkatkan bobot negara berkembang lain yang masih berada di Emerging Market, salah satunya Indonesia.
Jika hal ini terjadi, berarti aliran dana asing (passive inflow) bisa mengalir deras ke saham-saham likuiditas tinggi di Indonesia.
Perseteruan Knetz vs SEAblings mungkin mendominasi perbincangan sosial, namun bagi investor cerdas, transisi Korea Selatan ini adalah momentum emas yang tidak boleh terlewatkan.
Jangan hanya menjadi penonton di tengah perubahan peta ekonomi global ini. Pastikan kamu memiliki alat yang tepat untuk menangkap setiap peluang sebelum momentum Indeks MSCI ini mencapai puncaknya.
Segera siapkan alat pendukung kamu dalam melalui momentum emas ini dan dapatkan akses data real-time, analisis emiten terlengkap, dan notifikasi pergerakan pasar secara instan.
Jadilah investor yang selangkah lebih maju dengan kemudahan transaksi dalam satu genggaman. Unduh sekarang dan mulailah membangun portofolio masa depan kamu!. [RIM]
Sources:
https://keia.org/the-peninsula/koreas-drive-for-developed-market-reclassification/
https://www.youtube.com/live/hu3jVUizbAY


Trading yang Mulus dan Efisien
Buka potensi trading saham dengan Maybank Trade ID, aplikasi andalan Anda untuk trading yang mulus dan efisien. Baik Anda seorang investor berpengalaman atau baru memulai, platform kami menjamin pengalaman perdagangan yang lancar.

Advanced Analytics dan Real-Time Data
Maybank Trade ID menyediakan data pasar real-time dan analisis lanjutan, memberi Anda kekuatan untuk membuat keputusan investasi yang terinformasi. Tetap selangkah lebih maju dari pasar dengan platform canggih kami.

Dipercaya oleh Ribuan Orang
Bergabunglah dengan ribuan trader yang mempercayai Maybank Trade ID untuk kebutuhan investasi mereka. Unduh sekarang dan mulailah perjalanan Anda menuju trading yang lebih cerdas dengan alat intuitif dan dukungan yang dapat diandalkan.
Alamat Kantor Pusat Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)





Alamat Kantor Pusat
Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)




