Sentimen Korea Selatan & Dampaknya ke IHSG
17:47, 23 February 2026
Tips and Edu
By Jazzy Refadebby

logo
Source : MSID Investment Education

Belakangan ini, jagat media sosial diguncang oleh perseteruan digital yang melibatkan dua kubu besar, yaitu: Knetz (Korean Netizens) dan SEAblings (South East Asia Siblings). Fenomena ini awalnya bermula dari etika di konser K-Pop ini dengan cepat berkembang menjadi isu rasisme dan stereotip ekonomi yang memicu kemarahan kolektif di Asia Tenggara.

Namun, di balik riuhnya adu argumen di timeline sosial media, Korea Selatan kini sedang berada di ambang transformasi besar. Korea Selatan berpotensi “naik kelas” MSCI dari Emerging Market menjadi Developed Market. Menariknya, pergeseran status negeri Ginseng ini justru berpeluang memberikan "durian runtuh" untuk stabilitas dan pertumbuhan IHSG.

Mengapa Korea Selatan Layak “Naik kelas” ke Developed Market?

Secara fundamental, kekuatan ekonomi Korea Selatan sebenarnya telah melampaui standar negara berkembang pada umumnya. Sebagai negara dengan basis ekonomi berteknologi tinggi, Korea menjadi markas bagi entitas global raksasa seperti Samsung, Hyundai, hingga LG.

Untuk memuluskan langkah "naik kelas" ini, pemerintah Korea telah mengimplementasikan serangkaian reformasi pasar modal:

  • Modernisasi Pasar Valas: Kemudahan bagi investor asing dalam bertransaksi mata uang Won kini ditingkatkan melalui perpanjangan jam operasional perdagangan Forex.
  • Debirokratisasi Investor: Prosedur registrasi bagi pemodal internasional kini dibuat jauh lebih simpel dan efisien.
  • Keterbukaan Informasi: Standar transparansi pasar ditingkatkan guna memastikan akses data yang setara bagi seluruh pelaku pasar global.
  • Mitigasi Risiko: Penyediaan instrumen lindung nilai (hedging) yang lebih beragam kini mulai dibuka untuk publik.
  • Penguatan Tata Kelola: Perusahaan publik didorong untuk menerapkan Good Corporate Governance guna memenangkan kepercayaan investor institusi.

Mengapa Status MSCI Sangat Penting?

Status pasar negara maju bukan sekadar label, melainkan kunci untuk menarik Aliran Dana Raksasa. Masuknya Korea ke kategori ini diperkirakan akan memicu aliran modal masuk (inflow) tambahan sebesar USD 15 miliar hingga USD 44 miliar dari manajer investasi global.

Langkah ini juga bertujuan menghapus "Korea Discount", sebuah fenomena di mana saham perusahaan besar seperti Samsung atau Hyundai dihargai lebih rendah dibandingkan pesaing globalnya karena hambatan akses pasar dan masalah tata kelola.

Memahami Pergerakan Dana: Active Fund vs Passive Fund

Ketika klasifikasi dalam Indeks MSCI berubah, peta aliran modal dunia akan langsung bergeser secara otomatis melalui dua kekuatan utama:

  1. Active Fund (Manajer Investasi Agresif): Kelompok ini secara dinamis mengelola portofolio untuk mengungguli performa indeks acuan. Jika Indonesia dinilai memiliki valuasi yang memikat dan stabilitas ekonomi yang terjaga, para manajer investasi ini akan segera melakukan positioning dengan menambah porsi saham di pasar domestik sebelum aliran dana besar masuk.
  2. Passive Fund (Index Fund & ETF): Berbeda dengan kelompok aktif, mereka bekerja dengan mereplikasi komposisi indeks seperti MSCI atau FTSE secara persis. Dana yang dikelola biasanya berasal dari entitas raksasa seperti dana pensiun global dan asuransi. Jika bobot Indonesia meningkat akibat keluarnya Korea dari kelompok berkembang, Passive Fund secara sistematis wajib membeli saham-saham di IHSG demi menyesuaikan komposisi portofolio mereka.

Peluang bagi Indonesia di Balik Transisi Korea

Menariknya, jika Korea Selatan resmi "naik kelas" pada tinjauan MSCI Juni 2026 mendatang, pasar modal Indonesia justru berpotensi mendapatkan keuntungan. Menurut Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas pada Tiger Insights, saat ini Korea memegang bobot signifikan (15%) di indeks MSCI Emerging MarketsJika Korea keluar dari kategori ini, manajer investasi global akan secara otomatis meningkatkan bobot negara berkembang lain yang masih berada di Emerging Market, salah satunya Indonesia.

Jika hal ini terjadi, berarti aliran dana asing (passive inflow) bisa mengalir deras ke saham-saham likuiditas tinggi di Indonesia.

Kesimpulan: Momentum Emas Bagi Investor Cerdas

Perseteruan Knetz vs SEAblings mungkin mendominasi perbincangan sosial, namun bagi investor cerdas, transisi Korea Selatan ini adalah momentum emas yang tidak boleh terlewatkan. 

Jangan hanya menjadi penonton di tengah perubahan peta ekonomi global ini. Pastikan kamu memiliki alat yang tepat untuk menangkap setiap peluang sebelum momentum Indeks MSCI ini mencapai puncaknya.

Segera siapkan alat pendukung kamu dalam melalui momentum emas ini dan dapatkan akses data real-time, analisis emiten terlengkap, dan notifikasi pergerakan pasar secara instan.

Jadilah investor yang selangkah lebih maju dengan kemudahan transaksi dalam satu genggaman. Unduh sekarang dan mulailah membangun portofolio masa depan kamu!. [RIM]

Sources:
https://keia.org/the-peninsula/koreas-drive-for-developed-market-reclassification/

https://www.youtube.com/live/hu3jVUizbAY

 

Sentimen Korea Selatan & Dampaknya ke IHSG
Tips and Edu
by Jazzy Refadebby
17:47, 23 February 2026
logo
Source : MSID Investment Education

Belakangan ini, jagat media sosial diguncang oleh perseteruan digital yang melibatkan dua kubu besar, yaitu: Knetz (Korean Netizens) dan SEAblings (South East Asia Siblings). Fenomena ini awalnya bermula dari etika di konser K-Pop ini dengan cepat berkembang menjadi isu rasisme dan stereotip ekonomi yang memicu kemarahan kolektif di Asia Tenggara.

Namun, di balik riuhnya adu argumen di timeline sosial media, Korea Selatan kini sedang berada di ambang transformasi besar. Korea Selatan berpotensi “naik kelas” MSCI dari Emerging Market menjadi Developed Market. Menariknya, pergeseran status negeri Ginseng ini justru berpeluang memberikan "durian runtuh" untuk stabilitas dan pertumbuhan IHSG.

Mengapa Korea Selatan Layak “Naik kelas” ke Developed Market?

Secara fundamental, kekuatan ekonomi Korea Selatan sebenarnya telah melampaui standar negara berkembang pada umumnya. Sebagai negara dengan basis ekonomi berteknologi tinggi, Korea menjadi markas bagi entitas global raksasa seperti Samsung, Hyundai, hingga LG.

Untuk memuluskan langkah "naik kelas" ini, pemerintah Korea telah mengimplementasikan serangkaian reformasi pasar modal:

  • Modernisasi Pasar Valas: Kemudahan bagi investor asing dalam bertransaksi mata uang Won kini ditingkatkan melalui perpanjangan jam operasional perdagangan Forex.
  • Debirokratisasi Investor: Prosedur registrasi bagi pemodal internasional kini dibuat jauh lebih simpel dan efisien.
  • Keterbukaan Informasi: Standar transparansi pasar ditingkatkan guna memastikan akses data yang setara bagi seluruh pelaku pasar global.
  • Mitigasi Risiko: Penyediaan instrumen lindung nilai (hedging) yang lebih beragam kini mulai dibuka untuk publik.
  • Penguatan Tata Kelola: Perusahaan publik didorong untuk menerapkan Good Corporate Governance guna memenangkan kepercayaan investor institusi.

Mengapa Status MSCI Sangat Penting?

Status pasar negara maju bukan sekadar label, melainkan kunci untuk menarik Aliran Dana Raksasa. Masuknya Korea ke kategori ini diperkirakan akan memicu aliran modal masuk (inflow) tambahan sebesar USD 15 miliar hingga USD 44 miliar dari manajer investasi global.

Langkah ini juga bertujuan menghapus "Korea Discount", sebuah fenomena di mana saham perusahaan besar seperti Samsung atau Hyundai dihargai lebih rendah dibandingkan pesaing globalnya karena hambatan akses pasar dan masalah tata kelola.

Memahami Pergerakan Dana: Active Fund vs Passive Fund

Ketika klasifikasi dalam Indeks MSCI berubah, peta aliran modal dunia akan langsung bergeser secara otomatis melalui dua kekuatan utama:

  1. Active Fund (Manajer Investasi Agresif): Kelompok ini secara dinamis mengelola portofolio untuk mengungguli performa indeks acuan. Jika Indonesia dinilai memiliki valuasi yang memikat dan stabilitas ekonomi yang terjaga, para manajer investasi ini akan segera melakukan positioning dengan menambah porsi saham di pasar domestik sebelum aliran dana besar masuk.
  2. Passive Fund (Index Fund & ETF): Berbeda dengan kelompok aktif, mereka bekerja dengan mereplikasi komposisi indeks seperti MSCI atau FTSE secara persis. Dana yang dikelola biasanya berasal dari entitas raksasa seperti dana pensiun global dan asuransi. Jika bobot Indonesia meningkat akibat keluarnya Korea dari kelompok berkembang, Passive Fund secara sistematis wajib membeli saham-saham di IHSG demi menyesuaikan komposisi portofolio mereka.

Peluang bagi Indonesia di Balik Transisi Korea

Menariknya, jika Korea Selatan resmi "naik kelas" pada tinjauan MSCI Juni 2026 mendatang, pasar modal Indonesia justru berpotensi mendapatkan keuntungan. Menurut Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas pada Tiger Insights, saat ini Korea memegang bobot signifikan (15%) di indeks MSCI Emerging MarketsJika Korea keluar dari kategori ini, manajer investasi global akan secara otomatis meningkatkan bobot negara berkembang lain yang masih berada di Emerging Market, salah satunya Indonesia.

Jika hal ini terjadi, berarti aliran dana asing (passive inflow) bisa mengalir deras ke saham-saham likuiditas tinggi di Indonesia.

Kesimpulan: Momentum Emas Bagi Investor Cerdas

Perseteruan Knetz vs SEAblings mungkin mendominasi perbincangan sosial, namun bagi investor cerdas, transisi Korea Selatan ini adalah momentum emas yang tidak boleh terlewatkan. 

Jangan hanya menjadi penonton di tengah perubahan peta ekonomi global ini. Pastikan kamu memiliki alat yang tepat untuk menangkap setiap peluang sebelum momentum Indeks MSCI ini mencapai puncaknya.

Segera siapkan alat pendukung kamu dalam melalui momentum emas ini dan dapatkan akses data real-time, analisis emiten terlengkap, dan notifikasi pergerakan pasar secara instan.

Jadilah investor yang selangkah lebih maju dengan kemudahan transaksi dalam satu genggaman. Unduh sekarang dan mulailah membangun portofolio masa depan kamu!. [RIM]

Sources:
https://keia.org/the-peninsula/koreas-drive-for-developed-market-reclassification/

https://www.youtube.com/live/hu3jVUizbAY

 

hero
Maybank Trade ID, Investasi Pintar dan Cepat
icon

Trading yang Mulus dan Efisien

Buka potensi trading saham dengan Maybank Trade ID, aplikasi andalan Anda untuk trading yang mulus dan efisien. Baik Anda seorang investor berpengalaman atau baru memulai, platform kami menjamin pengalaman perdagangan yang lancar.

icon

Advanced Analytics dan Real-Time Data

Maybank Trade ID menyediakan data pasar real-time dan analisis lanjutan, memberi Anda kekuatan untuk membuat keputusan investasi yang terinformasi. Tetap selangkah lebih maju dari pasar dengan platform canggih kami.

icon

Dipercaya oleh Ribuan Orang

Bergabunglah dengan ribuan trader yang mempercayai Maybank Trade ID untuk kebutuhan investasi mereka. Unduh sekarang dan mulailah perjalanan Anda menuju trading yang lebih cerdas dengan alat intuitif dan dukungan yang dapat diandalkan.

Download New Maybank Trade ID by clicking these buttons below
App Store
Play Store
Maybank Trade ID, Investasi Pintar dan Cepat
hero
Trading yang Mulus dan Efisien
hero
Advanced Analytics dan Real-Time Data
hero
Dipercaya oleh Ribuan Orang
Download Maybank Trade ID
app-storeapp-store

Alamat Kantor Pusat Maybank Sekuritas Indonesia

Sentral Senayan III Lantai 22,

Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,

Senayan, Jakarta 10270

Jam Operasional

Senin - Jumat

Pukul 08.30 - 16.30

Pada Hari Kerja

PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Logo IDXLogo KSEILogo IDLogo SIPFLogo Nabung

Alamat Kantor Pusat

Maybank Sekuritas Indonesia

Sentral Senayan III Lantai 22,

Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,

Senayan, Jakarta 10270

Jam Operasional

Senin - Jumat

Pukul 08.30 - 16.30

Pada Hari Kerja

iconiconicon

PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Logo IDXLogo Nabung
Logo KSEILogo IDLogo SIPF