
Pasar modal kini menghadapi situasi yang cukup menantang, Di tengah upaya IHSG mempertahankan momentum penguatan di level 8.310, munculnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi alarm bagi pelaku pasar untuk segera mengatur ulang strategi portofolio. Gejolak di Timur Tengah ini bukan sekadar berita politik, melainkan penggerak utama volatilitas komoditas yang bisa menjadi peluang emas jika dipahami dengan tepat.
Eskalasi di Timur Tengah telah memicu reaksi instan pada pasar komoditas. Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak drastis ke kisaran 65 USD per barel hanya dalam hitungan jam setelah tensi meningkat. Kondisi ini menempatkan saham-saham jasa penunjang migas dalam radar utama investor.
Menurut Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, meskipun semua pihak berharap tensi ini tidak meluas menjadi konflik terbuka, pasar sudah merespons dengan kenaikan signifikan pada komoditas emas dan minyak. Kondisi ini membuat emiten seperti ELSA menjadi proksi yang sangat kuat. Lonjakan harga minyak dunia biasanya diikuti dengan peningkatan anggaran eksplorasi perusahaan hulu migas, yang secara otomatis akan mempertebal kontrak baru bagi emiten jasa energi.
Selain minyak, emas kembali mengukuhkan statusnya sebagai aset pelindung nilai (safe haven). Aman Mineral (AMMN) menjadi pilihan strategis bagi investor yang ingin menangkap peluang dari kenaikan harga emas dan tembaga. AMMN diharapkan mulai menunjukkan perbaikan kinerja finansial yang signifikan mulai kuartal keempat, sehingga harganya berpotensi mengejar ketertinggalan (catch-up) dibandingkan emiten emas murni lainnya yang sudah rally lebih dulu.
Investor saat ini memberikan perhatian khusus pada prospek duo alam tri, yakni Adaro Minerals (ADMR) dan Adaro Energy (ADRO). Kedua perusahaan ini sedang berada dalam jalur transformasi besar yang diproyeksikan akan mengubah struktur pendapatan mereka secara fundamental pada tahun 2026.
ADMR bukan lagi sekadar cerita tentang batu bara metalurgi. Fokus utama perusahaan tahun ini adalah akselerasi proyek smelter aluminium. Berdasarkan pemaparan manajemen, target output tahun ini ditingkatkan secara masif dari 500.000 ton menjadi 1 juta ton. Peningkatan kapasitas dua kali lipat ini diharapkan menjadi motor utama pertumbuhan pendapatan (top-line) ADMR.
Berdasarkan analisis saham teknikal yang dilakukan oleh Satriawan, Chartist Maybank Sekuritas, ADMR saat ini menunjukkan pergerakan yang menarik setelah berhasil bertahan di support uptrend line dan Fibo 61,8% pada level 1.870. Saat ini, ADMR sedang menguji resistance kuat di level 1.990 hingga 2.010. Jika mampu menembus level tersebut, maka pola Inverse Head and Shoulders akan terkonfirmasi dengan target kenaikan jangka panjang menuju 2.330.
Sebagai induk usaha, ADRO menawarkan profil risiko yang lebih stabil dengan arus kas yang kuat. Meskipun sedang dalam masa transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT), ADRO tetap diuntungkan oleh kepemilikan saham mayoritasnya di ADMR. Valuasi ADRO yang relatif masih murah dibandingkan emiten energi lainnya menjadikannya pilihan menarik bagi investor yang mencari kombinasi antara dividend yield dan eksposur pada pertumbuhan industri hilirisasi logam.
Fath juga mengatakan, bahwa satu lagi emiten yang menunjukkan perubahan profil bisnis secara radikal adalah TBS Energi Utama (TOBA). Analisa fundamental menunjukkan bahwa TOBA telah sukses melakukan diversifikasi dari batu bara fosil menuju bisnis berkelanjutan. Saat ini, sekitar 39% dari total pendapatan TOBA sudah bersumber dari lini bisnis waste management.
Keberhasilan ini didorong oleh akuisisi strategis perusahaan pengelolaan limbah regional yang memiliki kinerja finansial sehat. Langkah TOBA untuk fokus pada pengelolaan limbah dan proyek waste-to-energy adalah strategi mitigasi risiko yang cerdas di tengah tren dekarbonisasi global. Dengan model bisnis yang mulai stabil di sektor ekonomi sirkular, TOBA tidak lagi sepenuhnya bergantung pada fluktuasi harga komoditas batu bara, melainkan membangun fondasi pendapatan yang lebih resilien untuk jangka panjang.
Tahun 2026 menuntut investor untuk lebih responsif terhadap isu geopolitik namun tetap berpegang pada data analisa fundamental. Peluang besar saat ini terletak pada emiten yang memiliki korelasi positif dengan kenaikan harga komoditas energi dan logam, serta perusahaan yang sukses melakukan transformasi bisnis hijau. Dengan mencermati prospek duo alam tri dan emiten resilien seperti ELSA, AMMN, dan TOBA, investor dapat tetap mengamankan keuntungan di tengah dinamika pasar yang menantang. [RIM]
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan merupakan rekomendasi beli atau jual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor. Selalu lakukan riset mandiri dan sesuaikan dengan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Tonton selengkapnya di: YouTube Maybank Sekuritas - Tiger Insights

Pasar modal kini menghadapi situasi yang cukup menantang, Di tengah upaya IHSG mempertahankan momentum penguatan di level 8.310, munculnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi alarm bagi pelaku pasar untuk segera mengatur ulang strategi portofolio. Gejolak di Timur Tengah ini bukan sekadar berita politik, melainkan penggerak utama volatilitas komoditas yang bisa menjadi peluang emas jika dipahami dengan tepat.
Eskalasi di Timur Tengah telah memicu reaksi instan pada pasar komoditas. Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak drastis ke kisaran 65 USD per barel hanya dalam hitungan jam setelah tensi meningkat. Kondisi ini menempatkan saham-saham jasa penunjang migas dalam radar utama investor.
Menurut Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, meskipun semua pihak berharap tensi ini tidak meluas menjadi konflik terbuka, pasar sudah merespons dengan kenaikan signifikan pada komoditas emas dan minyak. Kondisi ini membuat emiten seperti ELSA menjadi proksi yang sangat kuat. Lonjakan harga minyak dunia biasanya diikuti dengan peningkatan anggaran eksplorasi perusahaan hulu migas, yang secara otomatis akan mempertebal kontrak baru bagi emiten jasa energi.
Selain minyak, emas kembali mengukuhkan statusnya sebagai aset pelindung nilai (safe haven). Aman Mineral (AMMN) menjadi pilihan strategis bagi investor yang ingin menangkap peluang dari kenaikan harga emas dan tembaga. AMMN diharapkan mulai menunjukkan perbaikan kinerja finansial yang signifikan mulai kuartal keempat, sehingga harganya berpotensi mengejar ketertinggalan (catch-up) dibandingkan emiten emas murni lainnya yang sudah rally lebih dulu.
Investor saat ini memberikan perhatian khusus pada prospek duo alam tri, yakni Adaro Minerals (ADMR) dan Adaro Energy (ADRO). Kedua perusahaan ini sedang berada dalam jalur transformasi besar yang diproyeksikan akan mengubah struktur pendapatan mereka secara fundamental pada tahun 2026.
ADMR bukan lagi sekadar cerita tentang batu bara metalurgi. Fokus utama perusahaan tahun ini adalah akselerasi proyek smelter aluminium. Berdasarkan pemaparan manajemen, target output tahun ini ditingkatkan secara masif dari 500.000 ton menjadi 1 juta ton. Peningkatan kapasitas dua kali lipat ini diharapkan menjadi motor utama pertumbuhan pendapatan (top-line) ADMR.
Berdasarkan analisis saham teknikal yang dilakukan oleh Satriawan, Chartist Maybank Sekuritas, ADMR saat ini menunjukkan pergerakan yang menarik setelah berhasil bertahan di support uptrend line dan Fibo 61,8% pada level 1.870. Saat ini, ADMR sedang menguji resistance kuat di level 1.990 hingga 2.010. Jika mampu menembus level tersebut, maka pola Inverse Head and Shoulders akan terkonfirmasi dengan target kenaikan jangka panjang menuju 2.330.
Sebagai induk usaha, ADRO menawarkan profil risiko yang lebih stabil dengan arus kas yang kuat. Meskipun sedang dalam masa transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT), ADRO tetap diuntungkan oleh kepemilikan saham mayoritasnya di ADMR. Valuasi ADRO yang relatif masih murah dibandingkan emiten energi lainnya menjadikannya pilihan menarik bagi investor yang mencari kombinasi antara dividend yield dan eksposur pada pertumbuhan industri hilirisasi logam.
Fath juga mengatakan, bahwa satu lagi emiten yang menunjukkan perubahan profil bisnis secara radikal adalah TBS Energi Utama (TOBA). Analisa fundamental menunjukkan bahwa TOBA telah sukses melakukan diversifikasi dari batu bara fosil menuju bisnis berkelanjutan. Saat ini, sekitar 39% dari total pendapatan TOBA sudah bersumber dari lini bisnis waste management.
Keberhasilan ini didorong oleh akuisisi strategis perusahaan pengelolaan limbah regional yang memiliki kinerja finansial sehat. Langkah TOBA untuk fokus pada pengelolaan limbah dan proyek waste-to-energy adalah strategi mitigasi risiko yang cerdas di tengah tren dekarbonisasi global. Dengan model bisnis yang mulai stabil di sektor ekonomi sirkular, TOBA tidak lagi sepenuhnya bergantung pada fluktuasi harga komoditas batu bara, melainkan membangun fondasi pendapatan yang lebih resilien untuk jangka panjang.
Tahun 2026 menuntut investor untuk lebih responsif terhadap isu geopolitik namun tetap berpegang pada data analisa fundamental. Peluang besar saat ini terletak pada emiten yang memiliki korelasi positif dengan kenaikan harga komoditas energi dan logam, serta perusahaan yang sukses melakukan transformasi bisnis hijau. Dengan mencermati prospek duo alam tri dan emiten resilien seperti ELSA, AMMN, dan TOBA, investor dapat tetap mengamankan keuntungan di tengah dinamika pasar yang menantang. [RIM]
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan merupakan rekomendasi beli atau jual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor. Selalu lakukan riset mandiri dan sesuaikan dengan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Tonton selengkapnya di: YouTube Maybank Sekuritas - Tiger Insights


Trading yang Mulus dan Efisien
Buka potensi trading saham dengan Maybank Trade ID, aplikasi andalan Anda untuk trading yang mulus dan efisien. Baik Anda seorang investor berpengalaman atau baru memulai, platform kami menjamin pengalaman perdagangan yang lancar.

Advanced Analytics dan Real-Time Data
Maybank Trade ID menyediakan data pasar real-time dan analisis lanjutan, memberi Anda kekuatan untuk membuat keputusan investasi yang terinformasi. Tetap selangkah lebih maju dari pasar dengan platform canggih kami.

Dipercaya oleh Ribuan Orang
Bergabunglah dengan ribuan trader yang mempercayai Maybank Trade ID untuk kebutuhan investasi mereka. Unduh sekarang dan mulailah perjalanan Anda menuju trading yang lebih cerdas dengan alat intuitif dan dukungan yang dapat diandalkan.
Alamat Kantor Pusat Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)





Alamat Kantor Pusat
Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)




