
Ketegangan geopolitik kembali memanas menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Salah satu peristiwa paling signifikan yang memicu kekhawatiran global adalah langkah Iran menutup Selat Hormuz, sebuah jalur distribusi vital yang melayani sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia.
Penutupan ini menjadi respons atas dugaan serangan dari pihak AS dan Israel, yang secara langsung memicu gejolak pada harga komoditas energi dan ketidakpastian di pasar ekuitas global.
Bagi investor di Bursa Efek Indonesia, pertanyaan utamanya adalah bagaimana dampak nyata konflik ini terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta sektor apa saja yang justru berpotensi mendapatkan keuntungan di tengah situasi krisis.
Meskipun berita penutupan Selat Hormuz dan serangan balik Iran terdengar mengkhawatirkan, reaksi pasar saham global pada awal Maret 2026 ini menunjukkan ketahanan yang mengejutkan. Indeks di kawasan Asia seperti Nikkei (Jepang) dan ASX (Australia) hanya mengalami penurunan moderat di bawah 1%. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar ketidakpastian mungkin sudah mulai diantisipasi oleh para pelaku pasar.
Menurut Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, kondisi pasar saat ini masih berada dalam fase yang cukup bullish secara umum. Meskipun terjadi volatilitas tinggi pada harga minyak yang sempat melonjak hingga 10%, penurunan di pasar saham tidak sedrastis yang ditakutkan oleh banyak pihak melalui pemberitaan media. Fath juga menekankan bahwa IHSG sebenarnya sudah mengalami tekanan jual (selling pressure) lebih awal dibandingkan bursa regional lainnya, sehingga potensi penurunan lanjutan akibat berita geopolitik ini seharusnya lebih terbatas karena posisi indeks yang sudah relatif "murah".
Namun, Fath memberikan catatan penting mengenai posisi Indonesia sebagai negara net oil importer. Kenaikan harga minyak dunia yang berkepanjangan dapat memperlebar defisit perdagangan jika tidak dibarengi dengan perbaikan pendapatan pajak. Meski demikian, untuk saat ini, dampak terhadap sektor perbankan besar (Big Banks) masih dianggap netral mengingat laporan keuangan mereka yang tetap solid.
Dari sisi pergerakan grafik, IHSG saat ini berada di persimpangan jalan yang krusial. Investor perlu memperhatikan level-level support kunci untuk menentukan langkah antisipasi jika tekanan jual meningkat.
Berdasarkan analisis saham teknikal yang dilakukan oleh Satriawan, Chartist Maybank Sekuritas, IHSG saat ini sedang menguji level support kritis di rentang 8.214 hingga 8.200. Jika indeks gagal bertahan di atas level 8.200 dan bergerak di bawahnya secara konsisten, maka ada risiko koreksi lebih dalam menuju target Moving Average (MA) 200 di sekitar level 8.048, atau bahkan hingga ke area 7.800. Sebaliknya, jika level 8.200 berhasil dipertahankan, IHSG masih memiliki peluang untuk kembali melakukan rebound menuju target cup and handle di posisi 8.741.
Di tengah ketidakpastian ini, beberapa saham di sektor komoditas energi dan logam mulia menjadi pilihan menarik karena korelasi positifnya terhadap kenaikan harga minyak dan status sebagai aset aman (safe haven asset). Berikut adalah beberapa ulasan teknikal untuk saham-saham pilihan dari Satriawan:
Selain sektor energi primer, sektor perkapalan khususnya kapal tanker juga mendapatkan sentimen positif yang signifikan. Gangguan di Selat Hormuz memaksa perusahaan kapal untuk mengatur ulang rute pelayaran mereka menjadi lebih jauh. Hal ini secara otomatis meningkatkan permintaan kapal tanker serta mendongkrak tarif angkut (charter rate) dan premi asuransi pengiriman.
Saham-saham seperti Soechi Lines (SOCI) dan Wintermar (WINS) perlu dipantau secara ketat. Khusus untuk SOCI, analisis teknikal menunjukkan bahwa saham ini masih dalam jalur uptrend yang kuat. Jika SOCI mampu menembus dan bertahan di atas level resistansi 72-78, maka terbuka peluang untuk reli lebih lanjut menuju target jangka panjang.
Bagi investor, situasi perang ini memang menciptakan volatilitas yang menantang, namun di sisi lain membuka celah keuntungan pada saham-saham yang diuntungkan oleh disrupsi pasokan global. Tetap perhatikan manajemen risiko dan batasan stop loss pada level-level support yang telah ditentukan.
Disclaimer
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan merupakan rekomendasi beli atau jual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor. Selalu lakukan riset mandiri dan sesuaikan dengan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Tonton selengkapnya di: https://www.youtube.com/live/CvG0wbVKOvo

Ketegangan geopolitik kembali memanas menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Salah satu peristiwa paling signifikan yang memicu kekhawatiran global adalah langkah Iran menutup Selat Hormuz, sebuah jalur distribusi vital yang melayani sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia.
Penutupan ini menjadi respons atas dugaan serangan dari pihak AS dan Israel, yang secara langsung memicu gejolak pada harga komoditas energi dan ketidakpastian di pasar ekuitas global.
Bagi investor di Bursa Efek Indonesia, pertanyaan utamanya adalah bagaimana dampak nyata konflik ini terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta sektor apa saja yang justru berpotensi mendapatkan keuntungan di tengah situasi krisis.
Meskipun berita penutupan Selat Hormuz dan serangan balik Iran terdengar mengkhawatirkan, reaksi pasar saham global pada awal Maret 2026 ini menunjukkan ketahanan yang mengejutkan. Indeks di kawasan Asia seperti Nikkei (Jepang) dan ASX (Australia) hanya mengalami penurunan moderat di bawah 1%. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar ketidakpastian mungkin sudah mulai diantisipasi oleh para pelaku pasar.
Menurut Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, kondisi pasar saat ini masih berada dalam fase yang cukup bullish secara umum. Meskipun terjadi volatilitas tinggi pada harga minyak yang sempat melonjak hingga 10%, penurunan di pasar saham tidak sedrastis yang ditakutkan oleh banyak pihak melalui pemberitaan media. Fath juga menekankan bahwa IHSG sebenarnya sudah mengalami tekanan jual (selling pressure) lebih awal dibandingkan bursa regional lainnya, sehingga potensi penurunan lanjutan akibat berita geopolitik ini seharusnya lebih terbatas karena posisi indeks yang sudah relatif "murah".
Namun, Fath memberikan catatan penting mengenai posisi Indonesia sebagai negara net oil importer. Kenaikan harga minyak dunia yang berkepanjangan dapat memperlebar defisit perdagangan jika tidak dibarengi dengan perbaikan pendapatan pajak. Meski demikian, untuk saat ini, dampak terhadap sektor perbankan besar (Big Banks) masih dianggap netral mengingat laporan keuangan mereka yang tetap solid.
Dari sisi pergerakan grafik, IHSG saat ini berada di persimpangan jalan yang krusial. Investor perlu memperhatikan level-level support kunci untuk menentukan langkah antisipasi jika tekanan jual meningkat.
Berdasarkan analisis saham teknikal yang dilakukan oleh Satriawan, Chartist Maybank Sekuritas, IHSG saat ini sedang menguji level support kritis di rentang 8.214 hingga 8.200. Jika indeks gagal bertahan di atas level 8.200 dan bergerak di bawahnya secara konsisten, maka ada risiko koreksi lebih dalam menuju target Moving Average (MA) 200 di sekitar level 8.048, atau bahkan hingga ke area 7.800. Sebaliknya, jika level 8.200 berhasil dipertahankan, IHSG masih memiliki peluang untuk kembali melakukan rebound menuju target cup and handle di posisi 8.741.
Di tengah ketidakpastian ini, beberapa saham di sektor komoditas energi dan logam mulia menjadi pilihan menarik karena korelasi positifnya terhadap kenaikan harga minyak dan status sebagai aset aman (safe haven asset). Berikut adalah beberapa ulasan teknikal untuk saham-saham pilihan dari Satriawan:
Selain sektor energi primer, sektor perkapalan khususnya kapal tanker juga mendapatkan sentimen positif yang signifikan. Gangguan di Selat Hormuz memaksa perusahaan kapal untuk mengatur ulang rute pelayaran mereka menjadi lebih jauh. Hal ini secara otomatis meningkatkan permintaan kapal tanker serta mendongkrak tarif angkut (charter rate) dan premi asuransi pengiriman.
Saham-saham seperti Soechi Lines (SOCI) dan Wintermar (WINS) perlu dipantau secara ketat. Khusus untuk SOCI, analisis teknikal menunjukkan bahwa saham ini masih dalam jalur uptrend yang kuat. Jika SOCI mampu menembus dan bertahan di atas level resistansi 72-78, maka terbuka peluang untuk reli lebih lanjut menuju target jangka panjang.
Bagi investor, situasi perang ini memang menciptakan volatilitas yang menantang, namun di sisi lain membuka celah keuntungan pada saham-saham yang diuntungkan oleh disrupsi pasokan global. Tetap perhatikan manajemen risiko dan batasan stop loss pada level-level support yang telah ditentukan.
Disclaimer
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan merupakan rekomendasi beli atau jual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor. Selalu lakukan riset mandiri dan sesuaikan dengan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Tonton selengkapnya di: https://www.youtube.com/live/CvG0wbVKOvo


Trading yang Mulus dan Efisien
Buka potensi trading saham dengan Maybank Trade ID, aplikasi andalan Anda untuk trading yang mulus dan efisien. Baik Anda seorang investor berpengalaman atau baru memulai, platform kami menjamin pengalaman perdagangan yang lancar.

Advanced Analytics dan Real-Time Data
Maybank Trade ID menyediakan data pasar real-time dan analisis lanjutan, memberi Anda kekuatan untuk membuat keputusan investasi yang terinformasi. Tetap selangkah lebih maju dari pasar dengan platform canggih kami.

Dipercaya oleh Ribuan Orang
Bergabunglah dengan ribuan trader yang mempercayai Maybank Trade ID untuk kebutuhan investasi mereka. Unduh sekarang dan mulailah perjalanan Anda menuju trading yang lebih cerdas dengan alat intuitif dan dukungan yang dapat diandalkan.
Alamat Kantor Pusat Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)





Alamat Kantor Pusat
Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)




