
Dinamika pasar modal Indonesia tengah memasuki babak baru pasca pengumuman interim freeze dari MSCI. Menanggapi isu transparansi yang menjadi sorotan global, regulator pasar modal Indonesia yang terdiri dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan), BEI (Bursa Efek Indonesia), dan KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) telah mengambil langkah konkret untuk memastikan IHSG tetap kompetitif di mata investor internasional.
Dalam pertemuan perdana secara daring dengan pihak MSCI, para regulator memaparkan strategi besar guna memperkuat struktur pasar saham tanah air. Apa saja poin pentingnya?
Salah satu tuntutan utama terkait transparansi adalah pengungkapan penerima manfaat akhir atau Ultimate Beneficial Ownership (UBO). Selama ini, publik hanya dapat memantau kepemilikan saham dengan porsi di atas 5%.
Kini, OJK dan BEI berkomitmen untuk membuka data pemegang saham dengan porsi hingga 1%. Langkah ini bertujuan agar aliran dana dan struktur kepemilikan emiten menjadi lebih jelas, sehingga mengurangi kekhawatiran adanya manipulasi pasar atau konsentrasi kepemilikan yang tidak sehat.
Likuiditas saham menjadi poin krusial bagi MSCI. Untuk menjawab tantangan ini, regulator berencana meningkatkan batas minimum saham publik atau Free Float dari 7,5% menjadi 15%.
Peningkatan Free Float 15% ini diharapkan dapat memperbesar suplai saham yang tersedia bagi masyarakat, sehingga pergerakan harga saham di bursa lebih mencerminkan mekanisme pasar yang murni dan tidak mudah digerakkan oleh segelintir pihak. Transformasi ini diprediksi akan mulai terlihat progresnya secara signifikan pada Maret 2026.
Tidak hanya soal jumlah saham, kualitas data investor juga ditingkatkan. KSEI akan menghadirkan rincian klasifikasi investor yang jauh lebih mendalam, dari yang semula hanya 9 sub-tipe menjadi 27 sub-tipe investor. Dengan data yang lebih granular, pasar dapat memetakan dengan lebih baik apakah sebuah saham didominasi oleh institusi lokal, dana pensiun, private equity, atau investor ritel.
Meski IHSG sempat mengalami tekanan hebat di awal Februari 2026, analisis teknikal menunjukkan adanya tanda-tanda bottoming di level support 7.825 - 7.854. Menariknya, saham-saham grup konglomerasi yang sempat terkena ARB (Auto Rejection Bawah) mulai menunjukkan adanya "perlawanan" dari sisi permintaan (demand).
Investor asing pun mulai mencatatkan net buy meskipun dalam jumlah tipis. Hal ini memberikan sinyal positif bahwa pasar mulai mencerna rencana aksi regulator dengan optimisme baru.
Kolaborasi strategis antara MSCI, OJK, BEI, dan KSEI merupakan sinyal kuat bahwa Indonesia serius dalam membenahi tata kelola pasar modalnya. Implementasi Free Float 15% dan transparansi data kepemilikan hingga 1% adalah kunci utama untuk menjaga kepercayaan investor global dan memastikan IHSG kembali ke jalur bullish.
Informasi ini dirangkum berdasarkan pemaparan Tiger Insights Maybank Sekuritas (3 Februari 2026). Tonton Video Lengkapnya di Sini: YouTube Maybank Sekuritas

Dinamika pasar modal Indonesia tengah memasuki babak baru pasca pengumuman interim freeze dari MSCI. Menanggapi isu transparansi yang menjadi sorotan global, regulator pasar modal Indonesia yang terdiri dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan), BEI (Bursa Efek Indonesia), dan KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) telah mengambil langkah konkret untuk memastikan IHSG tetap kompetitif di mata investor internasional.
Dalam pertemuan perdana secara daring dengan pihak MSCI, para regulator memaparkan strategi besar guna memperkuat struktur pasar saham tanah air. Apa saja poin pentingnya?
Salah satu tuntutan utama terkait transparansi adalah pengungkapan penerima manfaat akhir atau Ultimate Beneficial Ownership (UBO). Selama ini, publik hanya dapat memantau kepemilikan saham dengan porsi di atas 5%.
Kini, OJK dan BEI berkomitmen untuk membuka data pemegang saham dengan porsi hingga 1%. Langkah ini bertujuan agar aliran dana dan struktur kepemilikan emiten menjadi lebih jelas, sehingga mengurangi kekhawatiran adanya manipulasi pasar atau konsentrasi kepemilikan yang tidak sehat.
Likuiditas saham menjadi poin krusial bagi MSCI. Untuk menjawab tantangan ini, regulator berencana meningkatkan batas minimum saham publik atau Free Float dari 7,5% menjadi 15%.
Peningkatan Free Float 15% ini diharapkan dapat memperbesar suplai saham yang tersedia bagi masyarakat, sehingga pergerakan harga saham di bursa lebih mencerminkan mekanisme pasar yang murni dan tidak mudah digerakkan oleh segelintir pihak. Transformasi ini diprediksi akan mulai terlihat progresnya secara signifikan pada Maret 2026.
Tidak hanya soal jumlah saham, kualitas data investor juga ditingkatkan. KSEI akan menghadirkan rincian klasifikasi investor yang jauh lebih mendalam, dari yang semula hanya 9 sub-tipe menjadi 27 sub-tipe investor. Dengan data yang lebih granular, pasar dapat memetakan dengan lebih baik apakah sebuah saham didominasi oleh institusi lokal, dana pensiun, private equity, atau investor ritel.
Meski IHSG sempat mengalami tekanan hebat di awal Februari 2026, analisis teknikal menunjukkan adanya tanda-tanda bottoming di level support 7.825 - 7.854. Menariknya, saham-saham grup konglomerasi yang sempat terkena ARB (Auto Rejection Bawah) mulai menunjukkan adanya "perlawanan" dari sisi permintaan (demand).
Investor asing pun mulai mencatatkan net buy meskipun dalam jumlah tipis. Hal ini memberikan sinyal positif bahwa pasar mulai mencerna rencana aksi regulator dengan optimisme baru.
Kolaborasi strategis antara MSCI, OJK, BEI, dan KSEI merupakan sinyal kuat bahwa Indonesia serius dalam membenahi tata kelola pasar modalnya. Implementasi Free Float 15% dan transparansi data kepemilikan hingga 1% adalah kunci utama untuk menjaga kepercayaan investor global dan memastikan IHSG kembali ke jalur bullish.
Informasi ini dirangkum berdasarkan pemaparan Tiger Insights Maybank Sekuritas (3 Februari 2026). Tonton Video Lengkapnya di Sini: YouTube Maybank Sekuritas


Trading yang Mulus dan Efisien
Buka potensi trading saham dengan Maybank Trade ID, aplikasi andalan Anda untuk trading yang mulus dan efisien. Baik Anda seorang investor berpengalaman atau baru memulai, platform kami menjamin pengalaman perdagangan yang lancar.

Advanced Analytics dan Real-Time Data
Maybank Trade ID menyediakan data pasar real-time dan analisis lanjutan, memberi Anda kekuatan untuk membuat keputusan investasi yang terinformasi. Tetap selangkah lebih maju dari pasar dengan platform canggih kami.

Dipercaya oleh Ribuan Orang
Bergabunglah dengan ribuan trader yang mempercayai Maybank Trade ID untuk kebutuhan investasi mereka. Unduh sekarang dan mulailah perjalanan Anda menuju trading yang lebih cerdas dengan alat intuitif dan dukungan yang dapat diandalkan.
Alamat Kantor Pusat Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)





Alamat Kantor Pusat
Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)




