
Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi motor penggerak utama pasar modal global dan domestik. Serangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menciptakan gelombang ketidakpastian yang memaksa investor untuk menata ulang portofolio mereka. Di tengah melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat terkoreksi tajam ke level 8.016, muncul peluang pada sektor komoditas yang justru mendapatkan sentimen positif dari kondisi "perang" ini.
Kenaikan tensi di kawasan Teluk secara langsung berdampak pada harga energi dunia. Harga minyak mentah dunia (WTI) menunjukkan stabilitas di level tinggi, sementara harga emas sebagai aset aman (safe haven) terus memecahkan rekor karena kekhawatiran eskalasi yang lebih luas. Namun, yang paling menarik perhatian para pelaku pasar saat ini adalah pergerakan harga batu bara internasional. Di pelabuhan Newcastle, kontrak pengiriman untuk bulan-bulan mendatang telah melonjak antara 7% hingga 8%.
Menurut Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, ketegangan geopolitik ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda dan justru cenderung meningkat. Kondisi ini membuat harga minyak mulai stabil di level yang jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa bulan lalu, yang kemudian diikuti oleh harga batu bara. Fath menekankan bahwa para pengelola dana saat ini sedang melakukan alokasi ulang portofolio secara besar-besaran ke saham-saham yang memiliki korelasi positif dengan kenaikan harga energi. Hal ini terlihat dari nilai transaksi yang luar biasa besar pada saham-saham seperti MEDC dan ELSA, yang mencatatkan rekor transaksi harian tertinggi dalam sejarah mereka.
IHSG sendiri sedang menghadapi tekanan jual dari investor asing yang mencatatkan net sell cukup signifikan. Dalam situasi pasar yang panik, strategi terbaik bagi investor jangka pendek adalah mengikuti momentum pada sektor-sektor yang diuntungkan secara fundamental maupun sentimen. Selain minyak, batu bara kini menjadi opsi yang sangat rasional karena posisinya sebagai substitusi energi dan keterkaitannya yang erat dengan harga minyak dunia.
Sektor perkapalan juga tidak luput dari pantauan. Gangguan pada jalur perdagangan di Selat Hormuz memaksa kapal-kapal tanker dan logistik untuk mengambil rute yang lebih jauh. Hal ini secara otomatis akan meningkatkan tarif angkut (freight rate), yang memberikan keuntungan tambahan bagi emiten seperti SMDR dan SOCI. Selain itu, sektor pendukung seperti emiten amonia dan pupuk, dalam hal ini ESA, juga diprediksi akan mengalami kenaikan harga jual akibat terganggunya supply global dari kawasan Iran.
Berdasarkan analisis saham teknikal yang dilakukan oleh Satriawan, Chartist Maybank Sekuritas, terdapat beberapa saham yang menunjukkan pola rebound dan kelanjutan tren menguat (uptrend):
Secara keseluruhan, IHSG masih berpotensi melakukan pengujian ke level bawah jika tidak segera kembali ke atas resistance 8.170. Siklus pasar menunjukkan bahwa bulan Maret sering kali menjadi periode yang volatil bagi pasar modal Indonesia. Investor diharapkan tetap waspada terhadap rilis laporan keuangan tahun 2025 yang akan menjadi katalis domestik berikutnya.
Eskalasi di Timur Tengah kemungkinan besar akan berlangsung selama berminggu-minggu ke depan. Oleh karena itu, menjaga porsi tunai dan berfokus pada saham-saham komoditas energi serta logistik merupakan langkah defensif sekaligus agresif yang bisa diambil untuk tetap mendulang cuan di tengah ketidakpastian global. Pantau terus pergerakan harga komoditas global sebagai panduan utama dalam mengambil keputusan beli di pasar saham domestik. [RIM]
Disclaimer
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan merupakan rekomendasi beli atau jual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor. Selalu lakukan riset mandiri dan sesuaikan dengan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Tonton selengkapnya di:https://www.youtube.com/live/C8oXO1qBFRU

Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi motor penggerak utama pasar modal global dan domestik. Serangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menciptakan gelombang ketidakpastian yang memaksa investor untuk menata ulang portofolio mereka. Di tengah melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat terkoreksi tajam ke level 8.016, muncul peluang pada sektor komoditas yang justru mendapatkan sentimen positif dari kondisi "perang" ini.
Kenaikan tensi di kawasan Teluk secara langsung berdampak pada harga energi dunia. Harga minyak mentah dunia (WTI) menunjukkan stabilitas di level tinggi, sementara harga emas sebagai aset aman (safe haven) terus memecahkan rekor karena kekhawatiran eskalasi yang lebih luas. Namun, yang paling menarik perhatian para pelaku pasar saat ini adalah pergerakan harga batu bara internasional. Di pelabuhan Newcastle, kontrak pengiriman untuk bulan-bulan mendatang telah melonjak antara 7% hingga 8%.
Menurut Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, ketegangan geopolitik ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda dan justru cenderung meningkat. Kondisi ini membuat harga minyak mulai stabil di level yang jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa bulan lalu, yang kemudian diikuti oleh harga batu bara. Fath menekankan bahwa para pengelola dana saat ini sedang melakukan alokasi ulang portofolio secara besar-besaran ke saham-saham yang memiliki korelasi positif dengan kenaikan harga energi. Hal ini terlihat dari nilai transaksi yang luar biasa besar pada saham-saham seperti MEDC dan ELSA, yang mencatatkan rekor transaksi harian tertinggi dalam sejarah mereka.
IHSG sendiri sedang menghadapi tekanan jual dari investor asing yang mencatatkan net sell cukup signifikan. Dalam situasi pasar yang panik, strategi terbaik bagi investor jangka pendek adalah mengikuti momentum pada sektor-sektor yang diuntungkan secara fundamental maupun sentimen. Selain minyak, batu bara kini menjadi opsi yang sangat rasional karena posisinya sebagai substitusi energi dan keterkaitannya yang erat dengan harga minyak dunia.
Sektor perkapalan juga tidak luput dari pantauan. Gangguan pada jalur perdagangan di Selat Hormuz memaksa kapal-kapal tanker dan logistik untuk mengambil rute yang lebih jauh. Hal ini secara otomatis akan meningkatkan tarif angkut (freight rate), yang memberikan keuntungan tambahan bagi emiten seperti SMDR dan SOCI. Selain itu, sektor pendukung seperti emiten amonia dan pupuk, dalam hal ini ESA, juga diprediksi akan mengalami kenaikan harga jual akibat terganggunya supply global dari kawasan Iran.
Berdasarkan analisis saham teknikal yang dilakukan oleh Satriawan, Chartist Maybank Sekuritas, terdapat beberapa saham yang menunjukkan pola rebound dan kelanjutan tren menguat (uptrend):
Secara keseluruhan, IHSG masih berpotensi melakukan pengujian ke level bawah jika tidak segera kembali ke atas resistance 8.170. Siklus pasar menunjukkan bahwa bulan Maret sering kali menjadi periode yang volatil bagi pasar modal Indonesia. Investor diharapkan tetap waspada terhadap rilis laporan keuangan tahun 2025 yang akan menjadi katalis domestik berikutnya.
Eskalasi di Timur Tengah kemungkinan besar akan berlangsung selama berminggu-minggu ke depan. Oleh karena itu, menjaga porsi tunai dan berfokus pada saham-saham komoditas energi serta logistik merupakan langkah defensif sekaligus agresif yang bisa diambil untuk tetap mendulang cuan di tengah ketidakpastian global. Pantau terus pergerakan harga komoditas global sebagai panduan utama dalam mengambil keputusan beli di pasar saham domestik. [RIM]
Disclaimer
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan merupakan rekomendasi beli atau jual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor. Selalu lakukan riset mandiri dan sesuaikan dengan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Tonton selengkapnya di:https://www.youtube.com/live/C8oXO1qBFRU


Trading yang Mulus dan Efisien
Buka potensi trading saham dengan Maybank Trade ID, aplikasi andalan Anda untuk trading yang mulus dan efisien. Baik Anda seorang investor berpengalaman atau baru memulai, platform kami menjamin pengalaman perdagangan yang lancar.

Advanced Analytics dan Real-Time Data
Maybank Trade ID menyediakan data pasar real-time dan analisis lanjutan, memberi Anda kekuatan untuk membuat keputusan investasi yang terinformasi. Tetap selangkah lebih maju dari pasar dengan platform canggih kami.

Dipercaya oleh Ribuan Orang
Bergabunglah dengan ribuan trader yang mempercayai Maybank Trade ID untuk kebutuhan investasi mereka. Unduh sekarang dan mulailah perjalanan Anda menuju trading yang lebih cerdas dengan alat intuitif dan dukungan yang dapat diandalkan.
Alamat Kantor Pusat Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)





Alamat Kantor Pusat
Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)




