
Pasar modal Indonesia tengah menghadapi dinamika yang cukup menantang di awal Maret 2026.
Lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah, serta rilis laporan keuangan tahunan emiten, menjadi sentimen utama yang menggerakkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Bagi para investor, memahami korelasi antara komoditas global dan kinerja fundamental emiten adalah kunci untuk menjaga portofolio tetap hijau.
Harga minyak dunia, baik jenis Brent maupun WTI, menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi. Brent sempat menembus angka di atas 80 USD per barel dalam waktu singkat.
Ketegangan di kawasan Selat Hormuz menjadi pemicu utama kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Di dalam negeri, dampaknya sudah mulai terasa pada sektor riil. PT Chandra Asri Pasifik Tbk (TPIA), misalnya, telah menyatakan kondisi force majeure sebagai langkah preventif administratif untuk meminimalkan risiko kerugian akibat ketidakpastian distribusi di Timur Tengah.
Menurut Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, pergerakan komoditas seperti minyak sangat sensitif terhadap gangguan fasilitas produksi di Timur Tengah. Namun, ia mencatat bahwa meski harga minyak melonjak, respon pasar saham global dan regional, termasuk Nikkei dan Kospi, kini cenderung lebih netral dan terkendali dibandingkan awal terjadinya konflik. Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar mulai terbiasa menyerap volatilitas tersebut, sehingga tekanan jual pada IHSG diharapkan tidak akan semasif hari-hari sebelumnya.
Maret dan April merupakan periode krusial karena merupakan tenggat waktu bagi emiten untuk merilis laporan keuangan full year 2025 serta laporan keuangan Kuartal I 2026. Fokus pasar kini mulai bergeser dari sentimen eksternal menuju data fundamental internal perusahaan. Investor sangat menantikan management guidance untuk melihat proyeksi bisnis di sepanjang tahun 2026.
Fath Aliansyah menambahkan bahwa saham-saham yang menunjukkan kinerja anomali atau di atas ekspektasi pasar biasanya akan mendapatkan momentum penguatan di periode ini.
Meskipun banyak saham dalam active watchlist mengalami koreksi akibat sentimen global, penurunan tersebut seringkali tidak mengubah fundamental perusahaan. Oleh karena itu, bagi investor dengan horison waktu panjang, kondisi pasar yang sedang tertekan justru dapat menjadi peluang akumulasi di harga yang lebih murah.
Di tengah fluktuasi indeks, pemilihan saham berbasis teknikal menjadi sangat penting untuk menentukan titik masuk (entry) dan keluar (exit) yang presisi.
Berdasarkan analisis saham teknikal yang dilakukan oleh Satriawan, Chartist Maybank Sekuritas, IHSG saat ini memiliki potensi rebound jangka pendek menuju level 7.835 hingga 7.947, selama mampu bertahan di atas support 7.481. Satriawan juga menyoroti beberapa saham sektor komoditas dan perkebunan yang menarik untuk diperhatikan:
Meskipun harga batubara mengalami peningkatan dalam sepekan terakhir, saham-saham seperti BUMI dan DEWA terpantau belum bergerak signifikan. Menurut tim Investment Specialist, hal ini disebabkan karena pasar seringkali sudah melakukan priced-in terhadap prospek komoditas tersebut, atau sedang menunggu hasil eksplorasi dan aksi korporasi lebih lanjut.
Di sisi lain, sektor pengapalan atau tanker seperti SOCI mendapatkan sentimen positif tambahan dari kenaikan biaya freight rate dan premi asuransi akibat gangguan jalur laut internasional. Industri tanker di dalam negeri juga didorong oleh agenda swasembada energi yang membutuhkan distribusi logistik yang kuat di negara kepulauan.
Investor diharapkan tetap waspada terhadap pergerakan dana asing (net sell/buy) dan volume transaksi harian. Minimnya nilai transaksi saat indeks menguat seringkali menandakan pasar yang masih bersikap wait and see terhadap perkembangan makro ekonomi lebih lanjut, termasuk kebijakan suku bunga dan rilis data inflasi mendatang. [RIM]
Disclaimer
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan merupakan rekomendasi beli atau jual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor. Selalu lakukan riset mandiri dan sesuaikan dengan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Tonton selengkapnya di: YouTube Maybank Sekuritas - Tiger Insights

Pasar modal Indonesia tengah menghadapi dinamika yang cukup menantang di awal Maret 2026.
Lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah, serta rilis laporan keuangan tahunan emiten, menjadi sentimen utama yang menggerakkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Bagi para investor, memahami korelasi antara komoditas global dan kinerja fundamental emiten adalah kunci untuk menjaga portofolio tetap hijau.
Harga minyak dunia, baik jenis Brent maupun WTI, menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi. Brent sempat menembus angka di atas 80 USD per barel dalam waktu singkat.
Ketegangan di kawasan Selat Hormuz menjadi pemicu utama kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Di dalam negeri, dampaknya sudah mulai terasa pada sektor riil. PT Chandra Asri Pasifik Tbk (TPIA), misalnya, telah menyatakan kondisi force majeure sebagai langkah preventif administratif untuk meminimalkan risiko kerugian akibat ketidakpastian distribusi di Timur Tengah.
Menurut Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, pergerakan komoditas seperti minyak sangat sensitif terhadap gangguan fasilitas produksi di Timur Tengah. Namun, ia mencatat bahwa meski harga minyak melonjak, respon pasar saham global dan regional, termasuk Nikkei dan Kospi, kini cenderung lebih netral dan terkendali dibandingkan awal terjadinya konflik. Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar mulai terbiasa menyerap volatilitas tersebut, sehingga tekanan jual pada IHSG diharapkan tidak akan semasif hari-hari sebelumnya.
Maret dan April merupakan periode krusial karena merupakan tenggat waktu bagi emiten untuk merilis laporan keuangan full year 2025 serta laporan keuangan Kuartal I 2026. Fokus pasar kini mulai bergeser dari sentimen eksternal menuju data fundamental internal perusahaan. Investor sangat menantikan management guidance untuk melihat proyeksi bisnis di sepanjang tahun 2026.
Fath Aliansyah menambahkan bahwa saham-saham yang menunjukkan kinerja anomali atau di atas ekspektasi pasar biasanya akan mendapatkan momentum penguatan di periode ini.
Meskipun banyak saham dalam active watchlist mengalami koreksi akibat sentimen global, penurunan tersebut seringkali tidak mengubah fundamental perusahaan. Oleh karena itu, bagi investor dengan horison waktu panjang, kondisi pasar yang sedang tertekan justru dapat menjadi peluang akumulasi di harga yang lebih murah.
Di tengah fluktuasi indeks, pemilihan saham berbasis teknikal menjadi sangat penting untuk menentukan titik masuk (entry) dan keluar (exit) yang presisi.
Berdasarkan analisis saham teknikal yang dilakukan oleh Satriawan, Chartist Maybank Sekuritas, IHSG saat ini memiliki potensi rebound jangka pendek menuju level 7.835 hingga 7.947, selama mampu bertahan di atas support 7.481. Satriawan juga menyoroti beberapa saham sektor komoditas dan perkebunan yang menarik untuk diperhatikan:
Meskipun harga batubara mengalami peningkatan dalam sepekan terakhir, saham-saham seperti BUMI dan DEWA terpantau belum bergerak signifikan. Menurut tim Investment Specialist, hal ini disebabkan karena pasar seringkali sudah melakukan priced-in terhadap prospek komoditas tersebut, atau sedang menunggu hasil eksplorasi dan aksi korporasi lebih lanjut.
Di sisi lain, sektor pengapalan atau tanker seperti SOCI mendapatkan sentimen positif tambahan dari kenaikan biaya freight rate dan premi asuransi akibat gangguan jalur laut internasional. Industri tanker di dalam negeri juga didorong oleh agenda swasembada energi yang membutuhkan distribusi logistik yang kuat di negara kepulauan.
Investor diharapkan tetap waspada terhadap pergerakan dana asing (net sell/buy) dan volume transaksi harian. Minimnya nilai transaksi saat indeks menguat seringkali menandakan pasar yang masih bersikap wait and see terhadap perkembangan makro ekonomi lebih lanjut, termasuk kebijakan suku bunga dan rilis data inflasi mendatang. [RIM]
Disclaimer
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan merupakan rekomendasi beli atau jual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor. Selalu lakukan riset mandiri dan sesuaikan dengan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Tonton selengkapnya di: YouTube Maybank Sekuritas - Tiger Insights


Trading yang Mulus dan Efisien
Buka potensi trading saham dengan Maybank Trade ID, aplikasi andalan Anda untuk trading yang mulus dan efisien. Baik Anda seorang investor berpengalaman atau baru memulai, platform kami menjamin pengalaman perdagangan yang lancar.

Advanced Analytics dan Real-Time Data
Maybank Trade ID menyediakan data pasar real-time dan analisis lanjutan, memberi Anda kekuatan untuk membuat keputusan investasi yang terinformasi. Tetap selangkah lebih maju dari pasar dengan platform canggih kami.

Dipercaya oleh Ribuan Orang
Bergabunglah dengan ribuan trader yang mempercayai Maybank Trade ID untuk kebutuhan investasi mereka. Unduh sekarang dan mulailah perjalanan Anda menuju trading yang lebih cerdas dengan alat intuitif dan dukungan yang dapat diandalkan.
Alamat Kantor Pusat Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)





Alamat Kantor Pusat
Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)




