
Belakangan ini, layar monitor saham kamu mungkin lebih sering berwarna merah membara. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami guncangan hebat hingga memicu trading halt pada akhir Januari dan awal Februari 2026. Pertanyaannya: apa yang sebenarnya terjadi?
Pangkal masalahnya ada pada satu istilah teknis yang kini jadi momok bagi investor: free float. Lembaga indeks global raksasa, Morgan Stanley Capital International (MSCI), secara mengejutkan memutuskan untuk membekukan (freeze) perubahan indeks untuk pasar Indonesia.
Mengapa data free float yang dilaporkan bursa kita seolah tidak cukup meyakinkan di mata dunia?
Apa Itu Free Float dan Mengapa MSCI Begitu Ketat?
Sebelum masuk ke konflik utama, kamu perlu ingat kembali bahwa free float adalah jumlah saham yang benar-benar beredar di publik dan tersedia untuk diperdagangkan oleh investor ritel seperti kamu. Saham yang dipegang oleh pengendali, pemerintah, atau pihak internal perusahaan tidak termasuk dalam hitungan ini.
Bagi MSCI, free float adalah nyawa dari sebuah indeks. Mereka menggunakan angka ini untuk menghitung Foreign Inclusion Factor (FIF). Semakin tinggi free float yang diakui, semakin besar bobot saham tersebut dalam indeks global, dan otomatis semakin banyak dana asing (passive fund) yang akan mengalir masuk.
Masalahnya, MSCI merasa ada "celah" antara data yang dilaporkan secara resmi dengan realitas kepemilikan di lapangan.
Ada beberapa alasan kuat mengapa MSCI mengambil langkah drastis dengan membekukan evaluasi indeks Indonesia pada Februari 2026 ini:
MSCI menyoroti bahwa banyak saham di Indonesia yang dikategorikan sebagai "publik" sebenarnya masih dimiliki oleh entitas yang memiliki hubungan afiliasi atau struktur kepemilikan yang rumit. Dalam usulan metodologi terbarunya, MSCI berencana menggunakan data dari laporan KSEI (KSEI Holding Composition Report) sebagai pembanding.
Jika dalam laporan KSEI ditemukan bahwa pemegang saham kategori Corporate (perusahaan) masih sangat dominan, MSCI cenderung menganggap itu bukan free float murni. Mereka menginginkan data yang benar-benar bersih dari pengaruh pengendali tersembunyi.
Tahukah kamu? OJK baru saja berencana menaikkan batas minimum free float menjadi 15%. Hal ini dilakukan untuk merespons kritik global. Namun, faktanya masih ada sekitar 290-an emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang belum memenuhi standar tersebut. Bagi MSCI, rendahnya likuiditas riil ini membuat investor institusi global sulit untuk masuk dan keluar (exit strategy) tanpa menggerakkan harga secara ekstrem.
MSCI melihat adanya ketidaksinkronan antara laporan tahunan emiten dengan data transaksi harian. Investor asing sangat sensitif terhadap isu investability. Jika mereka merasa data kepemilikan saham "abu-abu", mereka lebih memilih untuk wait and see atau bahkan memindahkan modalnya ke pasar negara berkembang lain yang lebih transparan, seperti India atau Vietnam.
Keputusan MSCI untuk membekukan kenaikan bobot saham Indonesia bukan sekadar berita di koran. Ini berdampak langsung pada portofolio kamu:
Di tengah badai sentimen MSCI, jangan biarkan kepanikan menguasai logika investasi kamu. Ini saatnya kamu lebih selektif. Fokuslah pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan secara nyata memiliki free float yang besar serta likuiditas yang sehat. Lihat di sini untuk daftarnya.
Pemerintah melalui OJK dan BEI saat ini sedang berupaya keras melakukan reformasi pasar modal. Langkah menaikkan standar free float dan memperbaiki sistem pelaporan data adalah sinyal positif bahwa regulator ingin pasar kita naik kelas.
Sebagai investor cerdas, kamu harus selalu memantau pergerakan data kepemilikan saham secara real-time. Jangan hanya percaya pada angka di permukaan, tapi lihatlah siapa yang sebenarnya menggerakkan pasar. Simak terus LIVE setiap pagi dari para Investment Specialist kami di Youtube Maybank Sekuritas untuk update kabar pasar modal terbaru.
Isu kepercayaan MSCI terhadap data free float Indonesia adalah alarm bagi kita semua untuk terus meningkatkan standar transparansi. Meski saat ini pasar sedang bergejolak, volatilitas selalu membuka peluang bagi mereka yang siap dengan data dan strategi yang matang. Tetap tenang, pantau terus kebijakan terbaru dari regulator, dan pastikan kamu menggunakan alat analisis yang tepat.
Download Maybank Trade ID sekarang di App Store atau Play Store dan jadilah investor yang selangkah lebih maju!

Belakangan ini, layar monitor saham kamu mungkin lebih sering berwarna merah membara. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami guncangan hebat hingga memicu trading halt pada akhir Januari dan awal Februari 2026. Pertanyaannya: apa yang sebenarnya terjadi?
Pangkal masalahnya ada pada satu istilah teknis yang kini jadi momok bagi investor: free float. Lembaga indeks global raksasa, Morgan Stanley Capital International (MSCI), secara mengejutkan memutuskan untuk membekukan (freeze) perubahan indeks untuk pasar Indonesia.
Mengapa data free float yang dilaporkan bursa kita seolah tidak cukup meyakinkan di mata dunia?
Apa Itu Free Float dan Mengapa MSCI Begitu Ketat?
Sebelum masuk ke konflik utama, kamu perlu ingat kembali bahwa free float adalah jumlah saham yang benar-benar beredar di publik dan tersedia untuk diperdagangkan oleh investor ritel seperti kamu. Saham yang dipegang oleh pengendali, pemerintah, atau pihak internal perusahaan tidak termasuk dalam hitungan ini.
Bagi MSCI, free float adalah nyawa dari sebuah indeks. Mereka menggunakan angka ini untuk menghitung Foreign Inclusion Factor (FIF). Semakin tinggi free float yang diakui, semakin besar bobot saham tersebut dalam indeks global, dan otomatis semakin banyak dana asing (passive fund) yang akan mengalir masuk.
Masalahnya, MSCI merasa ada "celah" antara data yang dilaporkan secara resmi dengan realitas kepemilikan di lapangan.
Ada beberapa alasan kuat mengapa MSCI mengambil langkah drastis dengan membekukan evaluasi indeks Indonesia pada Februari 2026 ini:
MSCI menyoroti bahwa banyak saham di Indonesia yang dikategorikan sebagai "publik" sebenarnya masih dimiliki oleh entitas yang memiliki hubungan afiliasi atau struktur kepemilikan yang rumit. Dalam usulan metodologi terbarunya, MSCI berencana menggunakan data dari laporan KSEI (KSEI Holding Composition Report) sebagai pembanding.
Jika dalam laporan KSEI ditemukan bahwa pemegang saham kategori Corporate (perusahaan) masih sangat dominan, MSCI cenderung menganggap itu bukan free float murni. Mereka menginginkan data yang benar-benar bersih dari pengaruh pengendali tersembunyi.
Tahukah kamu? OJK baru saja berencana menaikkan batas minimum free float menjadi 15%. Hal ini dilakukan untuk merespons kritik global. Namun, faktanya masih ada sekitar 290-an emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang belum memenuhi standar tersebut. Bagi MSCI, rendahnya likuiditas riil ini membuat investor institusi global sulit untuk masuk dan keluar (exit strategy) tanpa menggerakkan harga secara ekstrem.
MSCI melihat adanya ketidaksinkronan antara laporan tahunan emiten dengan data transaksi harian. Investor asing sangat sensitif terhadap isu investability. Jika mereka merasa data kepemilikan saham "abu-abu", mereka lebih memilih untuk wait and see atau bahkan memindahkan modalnya ke pasar negara berkembang lain yang lebih transparan, seperti India atau Vietnam.
Keputusan MSCI untuk membekukan kenaikan bobot saham Indonesia bukan sekadar berita di koran. Ini berdampak langsung pada portofolio kamu:
Di tengah badai sentimen MSCI, jangan biarkan kepanikan menguasai logika investasi kamu. Ini saatnya kamu lebih selektif. Fokuslah pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan secara nyata memiliki free float yang besar serta likuiditas yang sehat. Lihat di sini untuk daftarnya.
Pemerintah melalui OJK dan BEI saat ini sedang berupaya keras melakukan reformasi pasar modal. Langkah menaikkan standar free float dan memperbaiki sistem pelaporan data adalah sinyal positif bahwa regulator ingin pasar kita naik kelas.
Sebagai investor cerdas, kamu harus selalu memantau pergerakan data kepemilikan saham secara real-time. Jangan hanya percaya pada angka di permukaan, tapi lihatlah siapa yang sebenarnya menggerakkan pasar. Simak terus LIVE setiap pagi dari para Investment Specialist kami di Youtube Maybank Sekuritas untuk update kabar pasar modal terbaru.
Isu kepercayaan MSCI terhadap data free float Indonesia adalah alarm bagi kita semua untuk terus meningkatkan standar transparansi. Meski saat ini pasar sedang bergejolak, volatilitas selalu membuka peluang bagi mereka yang siap dengan data dan strategi yang matang. Tetap tenang, pantau terus kebijakan terbaru dari regulator, dan pastikan kamu menggunakan alat analisis yang tepat.
Download Maybank Trade ID sekarang di App Store atau Play Store dan jadilah investor yang selangkah lebih maju!


Trading yang Mulus dan Efisien
Buka potensi trading saham dengan Maybank Trade ID, aplikasi andalan Anda untuk trading yang mulus dan efisien. Baik Anda seorang investor berpengalaman atau baru memulai, platform kami menjamin pengalaman perdagangan yang lancar.

Advanced Analytics dan Real-Time Data
Maybank Trade ID menyediakan data pasar real-time dan analisis lanjutan, memberi Anda kekuatan untuk membuat keputusan investasi yang terinformasi. Tetap selangkah lebih maju dari pasar dengan platform canggih kami.

Dipercaya oleh Ribuan Orang
Bergabunglah dengan ribuan trader yang mempercayai Maybank Trade ID untuk kebutuhan investasi mereka. Unduh sekarang dan mulailah perjalanan Anda menuju trading yang lebih cerdas dengan alat intuitif dan dukungan yang dapat diandalkan.
Alamat Kantor Pusat Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)





Alamat Kantor Pusat
Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)




