
Kebijakan freeze terjadi ketika bank sentral memutuskan untuk tidak menaikkan atau menurunkan suku bunga acuan dalam periode tertentu. Di awal 2026, setelah fase pemangkasan yang cukup agresif di akhir 2025, banyak bank sentral mulai mengambil langkah "wait and see".
Langkah ini biasanya diambil untuk memantau apakah inflasi benar-benar sudah "jinak" atau apakah ekonomi membutuhkan dorongan tambahan. Bagi kamu yang bertransaksi di pasar saham, freeze adalah sinyal stabilitas, namun juga menyimpan ketidakpastian.
Ketika suku bunga di negara maju seperti Amerika Serikat ditahan (freeze), selisih imbal hasil (yield spread) dengan negara berkembang seperti Indonesia menjadi lebih terbaca. Investor asing biasanya akan melihat dua hal:
Kepastian Biaya Dana: Dengan bunga yang tidak lagi naik, biaya modal (cost of fund) bagi investor institusi global menjadi lebih terprediksi. Ini membuat mereka lebih berani masuk ke aset berisiko (risk-on assets) seperti saham di Indonesia.
Daya Tarik Rupiah: Jika suku bunga domestik (BI Rate) juga berada dalam posisi stabil yang lebih tinggi dibanding luar negeri, rupiah akan cenderung menguat. Aliran modal masuk (inflow) akan meningkat karena investor asing mengejar capital gain dari kenaikan harga saham sekaligus keuntungan dari penguatan nilai tukar.
Memasuki kuartal pertama 2026, kita melihat fenomena The Great Rebalancing. Investor global mulai memindahkan dana dari pasar yang sudah jenuh (seperti pasar saham negara maju yang valuasinya sudah mahal) ke pasar emerging markets yang menawarkan valuasi lebih murah.
Kebijakan freeze memberikan waktu bagi manajer investasi asing untuk melakukan akumulasi pada saham-saham blue chip Indonesia. Kamu bisa memantau pergerakan ini melalui fitur Foreign Flow di aplikasi Maybank Trade ID untuk melihat saham apa saja yang sedang dikoleksi oleh institusi besar dunia.
Tidak semua saham bereaksi sama terhadap kebijakan freeze. Sebagai investor cerdas, kamu harus tahu ke mana arah uang tersebut mengalir:
Saham perbankan adalah pintu masuk utama bagi modal asing. Dengan suku bunga yang stabil, Net Interest Margin (NIM) bank cenderung terjaga. Investor asing menyukai stabilitas ini karena dividen yang dihasilkan biasanya lebih terukur.
Kebijakan freeze seringkali diikuti oleh daya beli masyarakat yang mulai pulih karena ekspektasi bunga kredit tidak akan naik lagi. Ini menjadi katalis positif bagi emiten ritel dan otomotif.
Sektor ini sangat sensitif terhadap suku bunga. Ketika suku bunga ditahan, ketidakpastian mengenai cicilan KPR berkurang. Hal ini memicu minat beli masyarakat dan meningkatkan kinerja emiten properti, yang pada gilirannya menarik minat asing untuk masuk kembali.
Meski terdengar positif, kebijakan freeze yang terlalu lama bisa menjadi bumerang. Jika inflasi tiba-tiba melonjak kembali (inflationary shock), bank sentral bisa saja membatalkan freeze dan kembali menaikkan bunga.
Jika ini terjadi, aliran modal asing bisa berbalik arah dalam sekejap (outflow). Oleh karena itu, kamu perlu alat analisis yang mampu memberikan data real-time agar tidak tertinggal momentum.
Bagaimana cara kamu menghadapi dinamika ini? Berikut adalah tips praktisnya:
Kebijakan freeze suku bunga adalah masa transisi yang krusial bagi aliran modal asing. Di satu sisi, ia memberikan stabilitas yang dibutuhkan pasar saham untuk tumbuh. Di sisi lain, ia menuntut kewaspadaan tinggi terhadap arah kebijakan moneter selanjutnya.
Indonesia, dengan fundamental ekonomi yang solid di tahun 2026, tetap menjadi primadona bagi investor global. Sekarang tinggal keputusan ada di tanganmu: apakah kamu hanya akan menjadi penonton saat dana asing masuk, atau ikut menumpang ombak keuntungan tersebut?
Jangan biarkan peluang ini lewat begitu saja. Dengan dukungan riset mendalam dan teknologi terkini, kamu bisa menaklukkan pasar saham dengan lebih percaya diri.
Gunakan aplikasi Maybank Trade ID yang kini hadir dengan antarmuka lebih intuitif, data real-time, dan fitur analisis canggih yang memudahkanmu mengambil keputusan investasi. Buka akun trading sahammu dalam hitungan menit dan mulailah berinvestasi seperti profesional

Kebijakan freeze terjadi ketika bank sentral memutuskan untuk tidak menaikkan atau menurunkan suku bunga acuan dalam periode tertentu. Di awal 2026, setelah fase pemangkasan yang cukup agresif di akhir 2025, banyak bank sentral mulai mengambil langkah "wait and see".
Langkah ini biasanya diambil untuk memantau apakah inflasi benar-benar sudah "jinak" atau apakah ekonomi membutuhkan dorongan tambahan. Bagi kamu yang bertransaksi di pasar saham, freeze adalah sinyal stabilitas, namun juga menyimpan ketidakpastian.
Ketika suku bunga di negara maju seperti Amerika Serikat ditahan (freeze), selisih imbal hasil (yield spread) dengan negara berkembang seperti Indonesia menjadi lebih terbaca. Investor asing biasanya akan melihat dua hal:
Kepastian Biaya Dana: Dengan bunga yang tidak lagi naik, biaya modal (cost of fund) bagi investor institusi global menjadi lebih terprediksi. Ini membuat mereka lebih berani masuk ke aset berisiko (risk-on assets) seperti saham di Indonesia.
Daya Tarik Rupiah: Jika suku bunga domestik (BI Rate) juga berada dalam posisi stabil yang lebih tinggi dibanding luar negeri, rupiah akan cenderung menguat. Aliran modal masuk (inflow) akan meningkat karena investor asing mengejar capital gain dari kenaikan harga saham sekaligus keuntungan dari penguatan nilai tukar.
Memasuki kuartal pertama 2026, kita melihat fenomena The Great Rebalancing. Investor global mulai memindahkan dana dari pasar yang sudah jenuh (seperti pasar saham negara maju yang valuasinya sudah mahal) ke pasar emerging markets yang menawarkan valuasi lebih murah.
Kebijakan freeze memberikan waktu bagi manajer investasi asing untuk melakukan akumulasi pada saham-saham blue chip Indonesia. Kamu bisa memantau pergerakan ini melalui fitur Foreign Flow di aplikasi Maybank Trade ID untuk melihat saham apa saja yang sedang dikoleksi oleh institusi besar dunia.
Tidak semua saham bereaksi sama terhadap kebijakan freeze. Sebagai investor cerdas, kamu harus tahu ke mana arah uang tersebut mengalir:
Saham perbankan adalah pintu masuk utama bagi modal asing. Dengan suku bunga yang stabil, Net Interest Margin (NIM) bank cenderung terjaga. Investor asing menyukai stabilitas ini karena dividen yang dihasilkan biasanya lebih terukur.
Kebijakan freeze seringkali diikuti oleh daya beli masyarakat yang mulai pulih karena ekspektasi bunga kredit tidak akan naik lagi. Ini menjadi katalis positif bagi emiten ritel dan otomotif.
Sektor ini sangat sensitif terhadap suku bunga. Ketika suku bunga ditahan, ketidakpastian mengenai cicilan KPR berkurang. Hal ini memicu minat beli masyarakat dan meningkatkan kinerja emiten properti, yang pada gilirannya menarik minat asing untuk masuk kembali.
Meski terdengar positif, kebijakan freeze yang terlalu lama bisa menjadi bumerang. Jika inflasi tiba-tiba melonjak kembali (inflationary shock), bank sentral bisa saja membatalkan freeze dan kembali menaikkan bunga.
Jika ini terjadi, aliran modal asing bisa berbalik arah dalam sekejap (outflow). Oleh karena itu, kamu perlu alat analisis yang mampu memberikan data real-time agar tidak tertinggal momentum.
Bagaimana cara kamu menghadapi dinamika ini? Berikut adalah tips praktisnya:
Kebijakan freeze suku bunga adalah masa transisi yang krusial bagi aliran modal asing. Di satu sisi, ia memberikan stabilitas yang dibutuhkan pasar saham untuk tumbuh. Di sisi lain, ia menuntut kewaspadaan tinggi terhadap arah kebijakan moneter selanjutnya.
Indonesia, dengan fundamental ekonomi yang solid di tahun 2026, tetap menjadi primadona bagi investor global. Sekarang tinggal keputusan ada di tanganmu: apakah kamu hanya akan menjadi penonton saat dana asing masuk, atau ikut menumpang ombak keuntungan tersebut?
Jangan biarkan peluang ini lewat begitu saja. Dengan dukungan riset mendalam dan teknologi terkini, kamu bisa menaklukkan pasar saham dengan lebih percaya diri.
Gunakan aplikasi Maybank Trade ID yang kini hadir dengan antarmuka lebih intuitif, data real-time, dan fitur analisis canggih yang memudahkanmu mengambil keputusan investasi. Buka akun trading sahammu dalam hitungan menit dan mulailah berinvestasi seperti profesional


Trading yang Mulus dan Efisien
Buka potensi trading saham dengan Maybank Trade ID, aplikasi andalan Anda untuk trading yang mulus dan efisien. Baik Anda seorang investor berpengalaman atau baru memulai, platform kami menjamin pengalaman perdagangan yang lancar.

Advanced Analytics dan Real-Time Data
Maybank Trade ID menyediakan data pasar real-time dan analisis lanjutan, memberi Anda kekuatan untuk membuat keputusan investasi yang terinformasi. Tetap selangkah lebih maju dari pasar dengan platform canggih kami.

Dipercaya oleh Ribuan Orang
Bergabunglah dengan ribuan trader yang mempercayai Maybank Trade ID untuk kebutuhan investasi mereka. Unduh sekarang dan mulailah perjalanan Anda menuju trading yang lebih cerdas dengan alat intuitif dan dukungan yang dapat diandalkan.
Alamat Kantor Pusat Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)





Alamat Kantor Pusat
Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)




