_11zon.png)
Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan gairah positif di awal kuartal kedua tahun 2026.
Melalui live streaming "Tiger Insights" dari Maybank Sekuritas, Tim Investment Specialist memberikan bedah tuntas mengenai arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah volatilitas global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Fokus utama para investor saat ini tertuju pada apakah penguatan IHSG belakangan ini merupakan sinyal berakhirnya fase koreksi atau sekadar dead cat bounce sesaat.
Kondisi pasar global pada awal April 2026 diwarnai oleh penguatan indeks utama Wall Street seperti S&P 500 dan NASDAQ. Optimisme ini muncul seiring dengan harapan meredanya konflik di Timur Tengah. Namun, ketidakpastian tetap membayangi, terutama terkait durasi konflik dan pidato penting dari tokoh global seperti Donald Trump yang dijadwalkan memberikan update situasi Iran. Lonjakan harga minyak global menjadi variabel krusial yang terus dipantau karena dampaknya terhadap inflasi dan kebijakan moneter.
Di dalam negeri, IHSG mencatatkan performa yang cukup solid dengan kenaikan signifikan ke level 7.184,44. Meskipun investor asing masih mencatatkan net sell tipis, nilai transaksi yang mencapai belasan triliun rupiah menunjukkan bahwa likuiditas pasar mulai pulih pasca libur panjang. Pemulihan nilai transaksi ini menjadi sinyal awal bahwa kepercayaan investor domestik mulai kembali stabil untuk menyongsong periode rilis laporan keuangan kuartal pertama tahun 2026.
Berdasarkan analisis saham teknikal yang dilakukan oleh Satriawan, Chartist Maybank Sekuritas, pergerakan IHSG pada perdagangan terakhir menunjukkan kekuatan setelah koreksinya tertahan di level last low 6.917. Satriawan menjelaskan bahwa indeks berhasil melakukan rebound dan tidak membentuk lower low baru, yang secara teknis merupakan indikasi positif. Namun, ia memberikan catatan penting bahwa kunci penguatan lanjutan berada pada level resistensi 7.324.
Jika IHSG mampu menembus dan bertahan di atas level 7.324, maka terbuka potensi besar bagi indeks untuk membentuk pola double bottom dengan target kenaikan jangka menengah hingga ke level 7.756. Untuk jangka pendek, Satriawan menetapkan area support di sekitar 7.100 hingga 7.000, dengan batas pertahanan terkuat tetap berada pada level 6.917. Para trader disarankan untuk memperhatikan volume perdagangan saat indeks mendekati level resistensi tersebut guna memastikan konfirmasi breakout.
Selain faktor geopolitik, faktor penggerak pasar yang paling dinantikan adalah rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan pada pertengahan Mei 2026. Peristiwa ini biasanya memicu volatilitas tinggi karena adanya penyesuaian portofolio oleh manajer investasi global. Indonesia yang mendapatkan status interim freeze di awal tahun membuat pengumuman kali ini menjadi sangat krusial bagi aliran dana asing (foreign flow) ke saham-saham blue chip.
Menurut Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, volatilitas pasar diperkirakan akan mengalami peningkatan signifikan menjelang akhir April hingga awal Mei 2026. Fath menekankan bahwa meskipun koreksi IHSG tampak mulai mereda, konfirmasi sepenuhnya apakah fase penurunan telah berakhir baru akan terlihat setelah adanya kejelasan dari pengumuman MSCI tersebut. Ia mengamati bahwa nilai transaksi di pasar reguler mulai membaik secara bertahap, yang menjadi indikator bahwa pasar sedang mempersiapkan diri untuk pergerakan besar berikutnya.
Sektor logistik dan pelayaran menjadi sorotan khusus, terutama saham PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR). Di tengah isu gangguan jalur pelayaran global akibat konflik Timur Tengah, SMDR justru menunjukkan ketahanan yang menarik. Menurut Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, SMDR saat ini tidak melayani rute Timur Tengah secara langsung, sehingga risiko operasional terkait penyanderaan kapal atau hambatan jalur di wilayah konflik tersebut tidak berdampak signifikan terhadap perseroan.
Lebih lanjut, Fath menjelaskan bahwa manajemen SMDR melihat adanya peningkatan kebutuhan kapal di awal 2026. Terkait kenaikan harga minyak, SMDR memiliki mekanisme pass-through biaya kepada pelanggan, sehingga risiko kenaikan beban bahan bakar dapat diminimalisir. Proyeksi laporan keuangan kuartal I-2026 SMDR diharapkan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya, didukung oleh peningkatan freight rate dan optimalisasi operasional di Pelabuhan Patimban yang mulai memberikan kontribusi pada pendapatan perusahaan.
Selain IHSG dan SMDR, beberapa emiten juga menunjukkan katalis positif dari sisi aksi korporasi dan kinerja fundamental. LPKR, misalnya, berencana melakukan akuisisi aset senilai ratusan miliar rupiah serta program buyback saham yang dijadwalkan mulai Mei 2026. Sementara itu, HRTA melakukan langkah strategis melalui MOU dengan anak usaha UNTR untuk penguatan bisnis pemurnian emas. Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat posisi HRTA di industri logam mulia di tengah tingginya harga emas dunia.
Berdasarkan analisis saham teknikal yang dilakukan oleh Satriawan, Chartist Maybank Sekuritas, terdapat beberapa saham yang menarik untuk dicermati berdasarkan momentum harganya:
Sektor tambang seperti emas dan nikel juga mendapatkan porsi perhatian besar dari investor. Saham-saham seperti ANTM, MBMA, dan INCO mulai merespon kenaikan harga komoditas global. Namun, investor diingatkan untuk tetap waspada terhadap sifat saham siklikal yang sangat bergantung pada narasi harga komoditas. Menurut Fath, investasi di saham komoditas seperti AMMN atau saham emas lainnya harus dilakukan dengan memperhatikan perubahan tren harga komoditas secara real-time, karena perubahan narasi dari positif ke negatif dapat terjadi dengan sangat cepat dalam hitungan kuartal.
Untuk saham TPIA yang banyak ditanyakan investor karena penurunan yang dalam, Berdasarkan analisis saham teknikal yang dilakukan oleh Satriawan, kondisi saat ini sudah tergolong oversold. Meskipun demikian, tanda-tanda rebound yang kuat belum sepenuhnya terlihat. Satriawan menyarankan investor untuk menunggu harga kembali ke atas level 5.300 guna membatalkan potensi koreksi lanjutan menuju target bawah di 3.770, mengingat tren jangka menengah TPIA masih berada dalam fase bearish.
Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia di bulan April 2026 menawarkan peluang menarik di tengah risiko geopolitik, namun strategi pemilihan saham berbasis momentum teknikal dan pemantauan ketat terhadap jadwal aksi korporasi serta kebijakan global tetap menjadi kunci utama bagi para investor untuk meraih profit maksimal. Tetap gunakan manajemen risiko yang disiplin dan pantau terus notifikasi aplikasi trading kamu untuk mendapatkan update momentum secara real-time sebelum mengambil keputusan beli atau jual di pasar modal. [RIM]
Disclaimer
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan merupakan rekomendasi beli atau jual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor. Selalu lakukan riset mandiri dan sesuaikan dengan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Tonton selengkapnya di: YouTube Maybank Sekuritas - Tiger Insights
_11zon.png)
Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan gairah positif di awal kuartal kedua tahun 2026.
Melalui live streaming "Tiger Insights" dari Maybank Sekuritas, Tim Investment Specialist memberikan bedah tuntas mengenai arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah volatilitas global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Fokus utama para investor saat ini tertuju pada apakah penguatan IHSG belakangan ini merupakan sinyal berakhirnya fase koreksi atau sekadar dead cat bounce sesaat.
Kondisi pasar global pada awal April 2026 diwarnai oleh penguatan indeks utama Wall Street seperti S&P 500 dan NASDAQ. Optimisme ini muncul seiring dengan harapan meredanya konflik di Timur Tengah. Namun, ketidakpastian tetap membayangi, terutama terkait durasi konflik dan pidato penting dari tokoh global seperti Donald Trump yang dijadwalkan memberikan update situasi Iran. Lonjakan harga minyak global menjadi variabel krusial yang terus dipantau karena dampaknya terhadap inflasi dan kebijakan moneter.
Di dalam negeri, IHSG mencatatkan performa yang cukup solid dengan kenaikan signifikan ke level 7.184,44. Meskipun investor asing masih mencatatkan net sell tipis, nilai transaksi yang mencapai belasan triliun rupiah menunjukkan bahwa likuiditas pasar mulai pulih pasca libur panjang. Pemulihan nilai transaksi ini menjadi sinyal awal bahwa kepercayaan investor domestik mulai kembali stabil untuk menyongsong periode rilis laporan keuangan kuartal pertama tahun 2026.
Berdasarkan analisis saham teknikal yang dilakukan oleh Satriawan, Chartist Maybank Sekuritas, pergerakan IHSG pada perdagangan terakhir menunjukkan kekuatan setelah koreksinya tertahan di level last low 6.917. Satriawan menjelaskan bahwa indeks berhasil melakukan rebound dan tidak membentuk lower low baru, yang secara teknis merupakan indikasi positif. Namun, ia memberikan catatan penting bahwa kunci penguatan lanjutan berada pada level resistensi 7.324.
Jika IHSG mampu menembus dan bertahan di atas level 7.324, maka terbuka potensi besar bagi indeks untuk membentuk pola double bottom dengan target kenaikan jangka menengah hingga ke level 7.756. Untuk jangka pendek, Satriawan menetapkan area support di sekitar 7.100 hingga 7.000, dengan batas pertahanan terkuat tetap berada pada level 6.917. Para trader disarankan untuk memperhatikan volume perdagangan saat indeks mendekati level resistensi tersebut guna memastikan konfirmasi breakout.
Selain faktor geopolitik, faktor penggerak pasar yang paling dinantikan adalah rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan pada pertengahan Mei 2026. Peristiwa ini biasanya memicu volatilitas tinggi karena adanya penyesuaian portofolio oleh manajer investasi global. Indonesia yang mendapatkan status interim freeze di awal tahun membuat pengumuman kali ini menjadi sangat krusial bagi aliran dana asing (foreign flow) ke saham-saham blue chip.
Menurut Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, volatilitas pasar diperkirakan akan mengalami peningkatan signifikan menjelang akhir April hingga awal Mei 2026. Fath menekankan bahwa meskipun koreksi IHSG tampak mulai mereda, konfirmasi sepenuhnya apakah fase penurunan telah berakhir baru akan terlihat setelah adanya kejelasan dari pengumuman MSCI tersebut. Ia mengamati bahwa nilai transaksi di pasar reguler mulai membaik secara bertahap, yang menjadi indikator bahwa pasar sedang mempersiapkan diri untuk pergerakan besar berikutnya.
Sektor logistik dan pelayaran menjadi sorotan khusus, terutama saham PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR). Di tengah isu gangguan jalur pelayaran global akibat konflik Timur Tengah, SMDR justru menunjukkan ketahanan yang menarik. Menurut Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, SMDR saat ini tidak melayani rute Timur Tengah secara langsung, sehingga risiko operasional terkait penyanderaan kapal atau hambatan jalur di wilayah konflik tersebut tidak berdampak signifikan terhadap perseroan.
Lebih lanjut, Fath menjelaskan bahwa manajemen SMDR melihat adanya peningkatan kebutuhan kapal di awal 2026. Terkait kenaikan harga minyak, SMDR memiliki mekanisme pass-through biaya kepada pelanggan, sehingga risiko kenaikan beban bahan bakar dapat diminimalisir. Proyeksi laporan keuangan kuartal I-2026 SMDR diharapkan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya, didukung oleh peningkatan freight rate dan optimalisasi operasional di Pelabuhan Patimban yang mulai memberikan kontribusi pada pendapatan perusahaan.
Selain IHSG dan SMDR, beberapa emiten juga menunjukkan katalis positif dari sisi aksi korporasi dan kinerja fundamental. LPKR, misalnya, berencana melakukan akuisisi aset senilai ratusan miliar rupiah serta program buyback saham yang dijadwalkan mulai Mei 2026. Sementara itu, HRTA melakukan langkah strategis melalui MOU dengan anak usaha UNTR untuk penguatan bisnis pemurnian emas. Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat posisi HRTA di industri logam mulia di tengah tingginya harga emas dunia.
Berdasarkan analisis saham teknikal yang dilakukan oleh Satriawan, Chartist Maybank Sekuritas, terdapat beberapa saham yang menarik untuk dicermati berdasarkan momentum harganya:
Sektor tambang seperti emas dan nikel juga mendapatkan porsi perhatian besar dari investor. Saham-saham seperti ANTM, MBMA, dan INCO mulai merespon kenaikan harga komoditas global. Namun, investor diingatkan untuk tetap waspada terhadap sifat saham siklikal yang sangat bergantung pada narasi harga komoditas. Menurut Fath, investasi di saham komoditas seperti AMMN atau saham emas lainnya harus dilakukan dengan memperhatikan perubahan tren harga komoditas secara real-time, karena perubahan narasi dari positif ke negatif dapat terjadi dengan sangat cepat dalam hitungan kuartal.
Untuk saham TPIA yang banyak ditanyakan investor karena penurunan yang dalam, Berdasarkan analisis saham teknikal yang dilakukan oleh Satriawan, kondisi saat ini sudah tergolong oversold. Meskipun demikian, tanda-tanda rebound yang kuat belum sepenuhnya terlihat. Satriawan menyarankan investor untuk menunggu harga kembali ke atas level 5.300 guna membatalkan potensi koreksi lanjutan menuju target bawah di 3.770, mengingat tren jangka menengah TPIA masih berada dalam fase bearish.
Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia di bulan April 2026 menawarkan peluang menarik di tengah risiko geopolitik, namun strategi pemilihan saham berbasis momentum teknikal dan pemantauan ketat terhadap jadwal aksi korporasi serta kebijakan global tetap menjadi kunci utama bagi para investor untuk meraih profit maksimal. Tetap gunakan manajemen risiko yang disiplin dan pantau terus notifikasi aplikasi trading kamu untuk mendapatkan update momentum secara real-time sebelum mengambil keputusan beli atau jual di pasar modal. [RIM]
Disclaimer
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan merupakan rekomendasi beli atau jual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor. Selalu lakukan riset mandiri dan sesuaikan dengan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Tonton selengkapnya di: YouTube Maybank Sekuritas - Tiger Insights


Trading yang Mulus dan Efisien
Buka potensi trading saham dengan Maybank Trade ID, aplikasi andalan Anda untuk trading yang mulus dan efisien. Baik Anda seorang investor berpengalaman atau baru memulai, platform kami menjamin pengalaman perdagangan yang lancar.

Advanced Analytics dan Real-Time Data
Maybank Trade ID menyediakan data pasar real-time dan analisis lanjutan, memberi Anda kekuatan untuk membuat keputusan investasi yang terinformasi. Tetap selangkah lebih maju dari pasar dengan platform canggih kami.

Dipercaya oleh Ribuan Orang
Bergabunglah dengan ribuan trader yang mempercayai Maybank Trade ID untuk kebutuhan investasi mereka. Unduh sekarang dan mulailah perjalanan Anda menuju trading yang lebih cerdas dengan alat intuitif dan dukungan yang dapat diandalkan.
Alamat Kantor Pusat Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)





Alamat Kantor Pusat
Maybank Sekuritas Indonesia
Sentral Senayan III Lantai 22,
Jl. Asia Afrika No. 8, Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta 10270
Jam Operasional
Senin - Jumat
Pukul 08.30 - 16.30
Pada Hari Kerja
PT Maybank Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)




